ads

TERNATE, TERBITMALUT.COM — Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, H. Rizal Marsaoly secara langsung meresmikan gedung Sekretariat dan Studio Radio 107.7 FM Generasi Muda Sultan Baabullah (Gemusba) bertempat di Pendopo Bala Kedaton Kesultanan Ternate, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri Oleh Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah bersama Permaisuri dan jajaran perangkat kesultanan. Serta dihadiri oleh Kadis Kebudayaan Kota Ternate.

Ketua Umum Gemusba, Jo Ngofa Kaicil Ismuulsujud dalam sambutannya menyampaikan, ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terwujudnya fasilitas Sekretariat dan Studio Radio 107.7 FM ini.

Menurutnya, peresmian ini merupakan komitmen Gemusba untuk menjaga adat, sejarah, kebudayaan, dan Kesultanan Ternate.

Karena, Gemusba berakar dari Pemuda Baabullah yang dibentuk Sultan Ternate ke-48 pada 1968, lalu diperbarui pada 1998 dengan nama Generasi Muda Sultan Baabullah.

“Sehingga gedung Sekretariat harus menjadi pusat pembinaan dan konsolidasi organisasi, sedangkan Studio Radio Gemusba akan menyebarkan informasi edukatif dan kreativitas generasi muda,”ujarnya.

Menurutnya, di era digital ini, anggota Gemusba harus memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.

“Karena, keberhasilan organisasi juga diukur dari kualitas generasi yang dibentuk, bukan dari megahnya bangunan (Studio),”tegasya.

Sekda Kota Ternate, H. Rizal Marsaoly Saat Menyampaikan Sambutan. (Dok. Humas)

Sementara itu, Sekda Kota Ternate, H. Rizal Marsaoly dan juga sebagai Anggota Kehormatan Gemusba, menyampaikan bahwa peresmian gedung sekretariat dan Radio Gemusba 107.7 FM merupakan momentum penting bagi generasi muda Sultan Baabullah saat ini.

Rizal juga mengapresiasi semangat luar biasa yang ditunjukkan oleh kepengurusan Gemusba periode ini. Lanjutnya, ini menunjukan bahwa adanya ruang kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda untuk menjaga pelestarian budaya di Kota Ternate.

Kata Rizal, meskipun banyak radio di Ternate, Radio Gemusba harus hadir sebagai radio yang different memiliki karakter yang khas dan identitas tersendiri.

Strategi ini mengharuskan Radio Gemusba untuk mengambil porsi segmen pendengar yang jelas. Targeting memetakan segmen-segmen yang akan menjadi target pasar (market share). Positioning memposisikan kedudukan pelestarian kebudayaan sebagai fokus utama.

“Sehingga Radio Gemusba diharapkan tidak hanya menyajikan hiburan yang sesuai dengan kearifan lokal tetapi juga menghadirkan model edukasi yang mungkin tidak disajikan oleh radio lain,”harapnya.

Rizal juga menyampaikan, bahwa harus ada program rutin yang disinergikan dengan Dinas Kebudayaan, seperti Podcast dengan narasumber yang relevan Isu-isu seputar pelestarian budaya.

“Radio Gemusba harus lebih fokus pada pelestarian budaya sesuai dengan visi dan misinya. Pemerintah, melalui Dinas Kebudayaan juga diharapkan dapat memberikan dukungan dan fokus untuk bersama-sama mengembangkan konten-konten yang relevan,”tegasnya.

Kami berharap agar Radio Gemusba terus membangun kemitraan dengan Pemerintah, Lembaga pendidikan, Komunitas kebudayaan dan berbagai organisasi masyarakat. Tujuannya adalah agar manfaat keberadaan Radio Gemusba dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.

Rizal menambahkan, pemerintah kota mungkin masih memiliki kekurangan dalam berbagai kebijakan terkait pelestarian budaya, baik di Dinas Kebudayaan maupun Dinas Pariwisata.

“Namun, konsistensi semangat untuk melestarikan budaya tetap menjadi prioritas pemerintah,”pungkasnya.

Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah bersama Sekda Kota Ternate didalam Studio Gemusba. (Dok. Humas)

Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah juga menegaskan bahwa prinsip dasar dalam menyiarkan kebudayaan. Jadi harus ada batasan konten yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.

“Media sosial yang kebenarannya tidak dapat dibuktikan sama sekali tidak boleh digunakan. Secara khusus, aib orang lain tidak boleh diangkat konten Radio Gemusba,”pintanya.

Menurutnya, konten yang diperbolehkan hanyalah menyiarkan budaya dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Budaya yang boleh disiarkan mencakup Budaya politik, Budaya hukum Budaya ekonomi (cara orang mencari rezeki) dan berbagai pendekatan kebudayaan lainnya.

“Sikap kritis harus tetap dikedepankan, namun harus bersifat konstruktif dan progresif. Kritik harus disertai dengan usulan-usulan yang benar-benar progresif. Kritik tanpa masukan yang baik tidaklah berguna,”terangnya.

Sultan menyatakan, bahwa Gemusba lahir dengan pendekatan budaya dan adat istiadat, maka hal ini harus diketahui oleh mereka yang berkecimpung di dalamnya. Tujuannya adalah menumbuhkan kemauan dan kepedulian untuk menggali nilai-nilai adat dan kearifan lokal.

“Target yang diharapkan Gemusba saat ini harus memiliki kemauan untuk memahami nilai-nilai budaya dan adat dan dapat melestarikan warisan budaya tersebut. Sekali lagi saya ditegaskan bahwa seluruh yang berkecimpung dalam Gemusba harus memiliki kemauan untuk belajar adat dan nilai-nilainya,”cetusnya. (**)

Editor : Uku

Bagikan: