ads
ads
ads

TERBITMALUT.COM  Ada perbedaan yang cukup besar antara pendidikan karakter di Islamic Boarding School dan sekolah reguler. Di sekolah reguler, pendidikan karakter biasanya terlihat dari poster di dinding, slogan di upacara, dan 2 jam per minggu. Sementara di sekolah Islam boarding, pendidikan tersebut terwujud lewat shalat berjamaah 5 waktu, guru yang tinggal di asrama, dan aturan yang berlaku 24 jam.

Dua hal ini jelas sangat berbeda, praktik pendidikan karakter lebih mendominasi di islamic boarding school daripada sekolah biasa. Artikel ini akan membahas perbedaan boarding school dan sekolah biasa secara mendalam.

Jam/Minggu vs 24 Jam/Hari: Mana yang Membentuk Karakter?

Salah satu nilai pendidikan karakter di islamic boarding school yang terbentuk dan paling mencolok adalah kemandirian siswa. Di sekolah biasa, siswa sangat bergantung pada orang tua. Meski mungkin saja bisa mandiri, tetapi tidak akan semandiri siswa-siswa yang tinggal di asrama.

Ini dikarenakan siswa dipaksa untuk belajar mengatur waktunya sendiri, hidup mandiri, dan bertanggung jawab terhadap apapun yang dilakukannya tanpa adanya campur tangan dari orang tua.

Dengan sistem 24 jam sehari lalu dibandingkan 2 jam per minggu, tentu saja jiwa kemandirian yang terbentuk lebih maksimal di islamic boarding school.

Mekanisme Pembentukan Karakter di Islamic Boarding School

Lantas, kira-kira seperti apa sih proses pembentukan karakter di islamic boarding school? Ini jawabannya:

1. Ibadah sebagai Kebiasaan, Bukan Pelajaran

Di islamic boarding school, kita akan secara rutin melakukan berbagai kegiatan keagamaan, termasuk ibadah sholat wajib berjamaah, sholat dhuha, sholat tahajud, membaca al-quran, dan tahfidz.

Meski awalnya belum terbiasa dengan ibadah yang lebih lengkap, tetapi karena sudah menjadi bagian dari rutinitas dan juga memiliki lingkungan yang suportif untuk beribadah, maka akan menjadi kebiasaan yang tak akan dilupakan.

2. Guru dan Ustaz: Role Model yang Tinggal Bersama

Pendidikan karakter dibentuk langsung oleh pembina akademik di sekolah dan juga pembina asrama di asrama. Artinya, pendidikan karakter memang sepenuhnya di handle oleh sistem sekolah sehingga lebih terarah dan terpusat. Begitu juga pergaulan siswa lebih terkontrol.

Sedangkan, SMA biasa, sistem pendidikan akan terbagi: di rumah dan sekolah. Saat di rumah, tentu kontrol siswa sepenuhnya oleh orang tua dan besar kemungkinan ada risiko terdistraksi oleh pengaruh negatif dari luar.

Biasanya, pembina asrama yang ditugaskan adalah seseorang yang juga tentunya paham dengan nilai-nilai keagamaan. Nah, tentu saja mereka akan menjadi role model bagi siswa-siswa.

3. Peer Pressure Positif dari Teman Asrama

Tak disangka, pengaruh positif dari teman sebaya justru juga sangat signifikan pengaruhnya terhadap pendidikan karakter seseorang. Ini karena kita akan berusaha mengikuti kebiasaan orang lain yang dianggap positif dan menyesuaikan perilaku. Mau tidak mau, tentu kita akan ikut terbiasa melakukan berbagai hal positif tersebut.

Hidden Curriculum: Karakter yang Terbentuk Tanpa Diajarkan

Maksud dari hidden curriculum adalah kurikulum yang tidak diajarkan secara resmi melainkan nilai-nilainya bersifat implisit. Jadi, siswa cenderung belajar dan mengambil pengalaman positif dari interaksi sehari-hari di sekolah ataupun mengikuti kegiatan positif.

Berdasarkan penelitian tesis dari Faizah Naily pada tahun 2024, hidden curriculum memang terbukti membawa pengaruh signifikan terhadap kepemimpinan dan spiritual siswa.

Sebab itulah, dari interaksi yang mungkin tidak sengaja terjadi dengan guru, pembina asrama, dan teman sebaya sebenarnya membawa dampak positif terhadap pengembangan pendidikan karakter seseorang.

Disiplin dari Jadwal, Empati dari Kehidupan Komunal

Tanpa disadari, selama di asrama dua nilai seperti disiplin dalam hal jadwal dan empati terhadap sesama akan terbentuk. Empati lahir dari rutinitas yang dilakukan secara konsisten setiap harinya.

Sedangkan, empati hadir karena kebersamaan yang dilakukan setiap harinya. Ini membuat siswa terbiasa untuk memahami perbedaan karakter setiap orang belajar untuk hidup secara berdampingan.

Contoh: Pembentukan Karakter di SMA Dwiwarna

Di sekolah biasa, pendidikan karakter cenderung hanya terjadi ketika jam sekolah yang mungkin hanya dialokasikan sekitar 2 jam per minggu, selebihnya dibina melalui poster dan slogan di dinding sekolah. Saat siswa kembali ke rumah, tentu tidak ada lagi pendidikan karakter yang diberikan sebab dikontrol sepenuhnya oleh orang tua.

Berbeda dengan SMA Dwiwarna Boarding School justru dialokasikan 24 jam. Dari bangun tidur sampai tidur malam harinya, lewat jadwal dan sistem terstruktur, setiap kegiatan akan sepenuhnya dipantau oleh pembina asrama.

Meski di awalnya sangat berat karena baru beradaptasi, namun setelahnya nilai-nilai seperti tanggung jawab, jujur, disiplin, dan kebiasaan lainnya akan menjadi hal yang sangat mudah dijalani.

Dampak Jangka Panjang terhadap Alumni

Setelah lulus, dampak positif dari belajar pendidikan karakter juga akan terasa. Misalnya, ketika Anda ingin kuliah ke luar negeri atau jauh dari orang tua, tentu tidak akan cemas dan lebih berani karena sudah terbiasa hidup mandiri, termasuk mampu mengatur waktu dan keuangan sendiri.

Sistem tanggungjawab dan disiplin telah terbentuk dengan sendirinya, sehingga tidak perlu belajar untuk menumbuhkan sikap itu kembali.

SMA Dwiwarna hadir sebagai salah satu sekolah Islam boarding terbaik dengan sistem pendidikan karakter yang dibentuk lewat keseharian dan kegiatan positif siswa. Ingin tahu  lebih lanjut seperti apa keseharian siswa SMA Dwiwarna? Bisa cek langsung di akun resmi Tiktok @smadwiwarna dan Instagram @sma_dwiwarna. (**)

Editor : TM

Bagikan: