Tim kegiatan edukasi lingkungan mengajak masyarakat dan pengelola wisata memperkuat pemilahan sampah serta menjaga keberlanjutan pesisir
TERNATE, TERBITMALUT.COM — Dalam upaya menjaga kebersihan kawasan wisata Pantai Kastela, Kota Ternate, terus didorong melalui edukasi pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Pada 16 Juli 2026, kegiatan sosialisasi dan pengenalan teknik penggunaan biopori dilaksanakan untuk memperkenalkan salah satu pilihan sederhana dalam mengolah sampah organik sekaligus membantu meningkatkan resapan air ke dalam tanah.
Kegiatan ini dipimpin oleh M. Abjan Fabanjo sebagai Ketua Tim Edukasi Lingkungan, bersama Ardan Samman sebagai anggota. Sementara, Narasumber yang dihadirkan adalah Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, Asmal Lahiyaro.
Kegiatan ini diarahkan untuk memperluas pemahaman masyarakat dan para pemangku kepentingan tentang pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pengumpulan dan pembuangan, tetapi juga pada pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
Pantai Kastela merupakan salah satu kawasan wisata di bagian selatan Pulau Ternate yang memiliki daya tarik alam dan sejarah. Keberadaan benteng peninggalan Portugis serta monumen Sultan Khairun menambah nilai kawasan ini sebagai tujuan wisata bahari sekaligus wisata sejarah. Pantai dengan panorama Gunung Gamalama tersebut menjadi ruang rekreasi bagi masyarakat dan pengunjung, sehingga kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari kenyamanan wisata.
Namun, seperti kawasan wisata lainnya, aktivitas pengunjung dan kegiatan usaha di sekitar pantai berpotensi menghasilkan sampah, terutama sisa makanan, kemasan minuman, dan bahan sekali pakai.
“Karena itu, pengelolaan sampah perlu dilakukan secara terencana dan melibatkan seluruh pihak, mulai dari pemerintah kelurahan, pengelola wisata, pedagang, masyarakat, hingga wisatawan,”ujarnya, kepada Terbitmalut.com.
Biopori sebagai pilihan teknologi sederhana
Dalam pemaparan materi, Kabid Pengelolaan Sampah DLH Kota Ternate, Asmal Lahiyaro mengatakan, bahwa konsep lubang resapan biopori sebagai teknologi sederhana dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan peresapan air sekaligus mengolah sampah organik melalui proses penguraian alami.
“Karena, sampah organik seperti daun kering dan sisa bahan pangan tertentu dapat dimasukkan secara bertahap ke dalam lubang yang sesuai, sehingga bahan tersebut mengalami dekomposisi dan berpotensi menjadi kompos,”jelasnya.
Biopori tidak dimaksudkan sebagai tempat pembuangan seluruh jenis sampah. Seperti sampah plastik, logam, kaca, baterai, dan limbah berbahaya tidak boleh dimasukkan ke dalam lubang biopori.
“Sampah-sampah tersebut harus dipilah dan ditangani melalui jalur pengumpulan, penggunaan kembali, daur ulang, atau mekanisme penanganan yang sesuai,”terangnya.
Lanjutnya, sehingga penerapan biopori menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang benar, bukan menggantikan seluruh kebutuhan pengangkutan dan pemilahan.
Lebih lanjut, Abjan mengatakan, sosialisasi ini, peserta diperkenalkan pada prinsip dasar pembuatan biopori, mulai dari pemilihan lokasi, persiapan alat dan bahan, pembuatan lubang, penguatan bagian mulut lubang, pengisian sampah organik, hingga penutupan yang aman.
Menurutnya, penentuan lokasi perlu memperhatikan kondisi tanah, keselamatan pengguna kawasan, serta jarak dari area yang tidak sesuai untuk infiltrasi. Di kawasan pesisir, pemasangan juga harus mempertimbangkan dominasi tanah berpasir dan kondisi lingkungan setempat.

Perlu pemilahan dan pengelolaan yang teratur
Dalam dokumen kegiatan mencatat bahwa pengelolaan sampah di kawasan wisata Pantai Kastela masih memerlukan penguatan, terutama dalam pemilahan sampah organik dan anorganik.
“Sampah yang terkumpul selama ini dibersihkan dari area pantai hingga tempat parkir, lalu dikumpulkan untuk dibuang atau ditangani lebih lanjut. Jika sampah tercampur dan tidak dikelola secara tepat, maka peluang pemanfaatan kembali material yang masih bernilai menjadi lebih kecil,”terangnya.
Dosen MSP itu menyatakan, pembakaran sampah secara terbuka juga bukan pilihan yang dianjurkan, khususnya ketika sampah mengandung plastik atau bahan lain yang dapat menghasilkan polutan berbahaya.
“Karena itu, pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pengolahan sampah organik perlu diperkuat sebagai satu rangkaian,”cetusnya.
Penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dapat membantu menekan jumlah sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sehingga, biopori dapat menjadi salah satu pilihan untuk menangani sebagian sampah organik yang sesuai, tetapi efektivitasnya bergantung pada pemilihan lokasi, perawatan rutin, dan kedisiplinan pengguna.
“Tidak semua titik di kawasan pantai cocok untuk pemasangan biopori. Oleh sebab itu, survei kondisi tanah dan penentuan titik yang tepat perlu dilakukan sebelum penerapan diperluas,”ungkapnya.
Kolaborasi masyarakat dan pengelola wisata
Kegiatan ini, juga menekankan pentingnya peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pemerintah kelurahan dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan sampah. Pengaturan jadwal kebersihan, penetapan penanggung jawab, penyediaan tempat sampah terpilah, serta edukasi kepada pedagang dan pengunjung merupakan langkah-langkah praktis yang dapat mendukung perubahan kebiasaan.
“Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting, karena kebersihan pantai tidak dapat bergantung hanya pada petugas kebersihan. Pedagang dapat mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dan memilah sampah dari tempat usaha,”ucapnya.
Wisatawan diharapkan membawa kembali atau membuang sampah pada tempat yang disediakan.
“Dan pengelola kawasan dapat menyampaikan aturan kebersihan secara jelas dan memastikan sampah yang telah dipilah ditangani sesuai jenisnya,”pintanya.
Kolaborasi lintas pihak turut dibangun seperti jehadiran Prof M. Janib Achmad sebagai Ketua Pusat Studi Pembangunan Daerah Unkhair, Manager PLN/PLTMG Ternate 30 MW, staf DLH, anggota Pokdarwis, masyarakat RT 5 Kelurahan Kastela, pedagang, UKM Pramuka, serta peserta KKN reguler Universitas Khairun.
“Dengan pelibatan beragam unsur diharapkan membuka ruang kerja sama untuk memperkuat sarana dan edukasi pengelolaan sampah di kawasan wisata,”harapnya.
Dalam rangkaian kegiatan, tim juga menyerahkan proposal bantuan kepada pihak pengelola PLTMG Ternate 30 MW untuk mendukung sarana pengolahan atau pemanfaatan sampah, termasuk gagasan pembuatan paving block berbahan plastik dan penggunaan sedotan aluminium sebagai alternatif sedotan plastik.
Proposal tersebut merupakan bentuk pengajuan dukungan; realisasi bantuan dan pelaksanaan program lanjutan perlu mengikuti hasil koordinasi dengan pihak terkait.
Menjaga pantai untuk wisata yang berkelanjutan
Melalui kegiatan ini, tim berharap edukasi tentang biopori dapat mendorong pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan sampah berbasis sumber.
Lanjuynya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari terlaksananya sosialisasi atau demonstrasi, tetapi juga dari tindak lanjut berupa pemilahan yang konsisten, perawatan fasilitas, pengurangan sampah yang dibuang, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Pengelolaan sampah yang baik memiliki hubungan langsung dengan kualitas pengalaman wisata dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Pantai yang bersih lebih nyaman dikunjungi, sementara lingkungan pesisir yang terjaga mendukung perlindungan ekosistem,”tambahnya.
Karena itu, upaya pengurangan sampah perlu berjalan seiring dengan penguatan kelembagaan lokal, dukungan fasilitas, dan pembiasaan perilaku ramah lingkungan.
Abjan juga mendorong agar pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan ini dapat diterapkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Dengan dukungan DLH Kota Ternate, pemerintah kelurahan, Pokdarwis, pelaku usaha, masyarakat, dan mitra lainnya, Pantai Kastela diharapkan dapat mengembangkan praktik pengelolaan sampah yang lebih tertata, partisipatif, dan berkelanjutan.
“Dalam menjaga kebersihan kawasan wisata merupakan tanggung jawab bersama. Biopori dapat menjadi salah satu bagian dari solusi untuk sampah organik, sementara sampah anorganik tetap membutuhkan pemilahan dan pengelolaan yang tepat. Konsistensi semua pihak akan menentukan apakah edukasi lingkungan dapat berkembang menjadi kebiasaan sehari-hari dan memberi manfaat jangka panjang bagi Pantai Kastela,”pungkasnya. (**)
Editor : Uku





