ads

WEDA, TERBITMALUT.COM — Platform digital lokal WedaGo mencatat 2.683 pengguna aplikasi, 181 mitra usaha, 98 kurir, dan 1.217 pesanan. Capaian ini menjadi modal awal bagi WedaGo untuk membangun ekosistem ekonomi digital yang menghubungkan masyarakat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengemudi ojek, serta kurir di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara.

Perkembangan tersebut dipaparkan dalam 36 TALK yang berlangsung di Weda, Selasa (21/10/2026), dan dihadiri langsung Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji.

Dirintis sejak 2025 dari gagasan Muhammad Kharies bersama sejumlah pihak, WedaGo dikembangkan sebagai platform layanan digital berbasis kebutuhan masyarakat lokal. Kehadirannya diharapkan dapat mempermudah aktivitas masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha dan tenaga kerja di daerah.

CEO WedaGo, Jusman Sofyan menjelaskan, bahwa berdasarkan data yang disampaikan pengelola, pertumbuhan penjualan aplikasi tercatat mencapai 120,2 persen.

“Namun pertumbuhan tersebut perlu dibaca bersama indikator lain, seperti jumlah pengguna aktif, frekuensi transaksi, pendapatan mitra, dan tingkat penyelesaian pesanan. Indikator tersebut penting untuk mengukur sejauh mana perkembangan platform berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat,”ujarnya.

Menurutnya, WedaGo berawal dari gagasan Muhammad Kharies untuk menghadirkan solusi digital yang tidak hanya mempermudah layanan, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.

Dalam proses perintisannya, Kharies bekerja sama dengan Jusman Sofyan, Sahdin Safi, Dela Abas, Mirnawati Kamarullah, Mursalin Muhammad, Kurniawan Umar, Muhammad Ridha, Julfan Yusri, dan Dedi Zulgaira.

Jusman mengatakan, pada tahap awal 2025, pengembangan difokuskan pada pembentukan tim dan perencanaan layanan. Memasuki 2026, WedaGo mulai memperluas jaringan dengan menghubungkan pengguna, UMKM, pengemudi ojek, dan kurir dalam satu platform.

Bagi pelaku usaha, layanan digital berpotensi menjadi saluran tambahan untuk mempromosikan produk dan menjangkau konsumen. Sementara bagi pengemudi ojek dan kurir, platform tersebut dapat membuka akses terhadap permintaan jasa.

“Namun, peluang itu tidak serta-merta menjamin peningkatan pendapatan. Manfaat ekonomi yang berkelanjutan tetap bergantung pada aktivitas transaksi, kualitas pelayanan, jangkauan pengguna, serta kemampuan pengelola menjaga kepercayaan masyarakat,”terangnya.

WEMA FEST Buka Ruang Promosi UMKM

Selain mengembangkan layanan digital, WedaGo turut mendorong promosi produk lokal melalui WEMA FEST Vol. 1 yang berlangsung pada Oktober 2026 ini.

Dalam materi 36 TALK, festival tersebut disebut melibatkan 19 UMKM dengan omzet mencapai Rp.165,68 juta. Namun, catatan perkembangan kegiatan yang disampaikan sebelumnya mencatat keterlibatan 17 UMKM dengan omzet Rp.120.670.000 selama delapan hari penyelenggaraan.

Perbedaan angka tersebut memerlukan penjelasan lebih lanjut, terutama terkait periode penghitungan omzet, cakupan transaksi, dan jumlah UMKM yang menjadi dasar pencatatan.

Kejelasan data penting agar publik memperoleh gambaran yang akurat mengenai hasil kegiatan sekaligus dapat menilai dampaknya terhadap pelaku usaha lokal.

Terlepas dari perbedaan pencatatan tersebut, WEMA FEST menjadi salah satu ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan produk, memperluas jaringan pemasaran, dan berinteraksi langsung dengan konsumen.

Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang pemasaran tidak berhenti setelah festival berakhir. Pelaku usaha membutuhkan akses penjualan yang konsisten, strategi mempertahankan pelanggan, peningkatan kualitas produk, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

Dalam konteks ini, digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan untuk memperpanjang akses pasar. Namun, keberhasilannya perlu diukur berdasarkan manfaat yang benar-benar dirasakan pelaku usaha, bukan semata-mata dari jumlah peserta festival atau nilai transaksi selama kegiatan berlangsung.

Dukungan Pemerintah Harus Berkelanjutan

Kata Jusman, pengembangan WedaGo juga membutuhkan dukungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), pendampingan usaha, peningkatan kapasitas UMKM, dan perluasan akses pasar bagi produk lokal.

“Dukungan pemerintah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan promosi maupun seremoni, tetapi terhubung dengan program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan,”harapnya.

Produk UMKM yang diperkenalkan melalui festival, misalnya, dapat terus dipasarkan melalui kanal digital. Pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan terkait pengemasan, kualitas produk, pencatatan keuangan, pelayanan konsumen, dan strategi pemasaran.

Jadi kolaborasi itu dapat membantu menyinergikan berbagai program pemerintah yang berkaitan dengan UMKM dan pengembangan ekonomi lokal di Halteng,”cetusnya.

Pada saat yang sama, WedaGo perlu menunjukkan kualitas layanan, transparansi pengelolaan, dan manfaat yang terukur bagi mitra usaha. Dengan demikian, dukungan terhadap inovasi lokal dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kepercayaan masyarakat.

Kehadiran platform digital yang dirintis anak daerah juga membuka ruang bagi pengembangan solusi teknologi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat Halmahera Tengah.

Tantangan WedaGo Melampaui Angka Pengguna

Dengan 2.683 pengguna, 181 mitra usaha, 98 kurir, dan 1.217 pesanan, WedaGo telah memiliki basis awal untuk mengembangkan layanan digital di Halmahera Tengah. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan dampak ekonomi yang dihasilkan.

Jumlah pengguna perlu dibedakan antara pengguna terdaftar dan pengguna aktif. Demikian pula, jumlah pesanan perlu dilihat berdasarkan frekuensi transaksi, tingkat penyelesaian pesanan, serta kontribusinya terhadap pendapatan mitra.

“Sehingga Kmketerbukaan data tersebut penting untuk mengevaluasi apakah pertumbuhan platform benar-benar diikuti peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat atau tidak,”paparnya.

Di sisi lain, WedaGo masih perlu memperkuat kepercayaan pengguna, menjaga kualitas pelayanan, memperluas kemitraan, dan memastikan operasional platform dapat bertahan dalam jangka panjang.

Jusman menempatkan pengembangan WedaGo sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi digital yang melibatkan masyarakat, UMKM, pengemudi ojek, dan kurir lokal.

Pesan yang dibawa dalam 36 TALK menekankan bahwa pengembangan ekonomi digital tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Inovasi anak daerah membutuhkan keberanian untuk memulai, UMKM perlu beradaptasi, sementara pemerintah diharapkan membangun dukungan yang konsisten.

WedaGo kini memiliki modal awal berupa pengguna, mitra usaha, jaringan kurir, dan aktivitas transaksi. Berikutnya adalah membuktikan bahwa ekosistem tersebut mampu memberikan manfaat nyata, memperluas pasar UMKM, serta menciptakan peluang ekonomi yang bertahan melampaui momentum festival.

Pada akhirnya, keberhasilan WedaGo tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang mengunduh aplikasi, tetapi juga oleh kemampuannya membantu masyarakat Halmahera Tengah mengembangkan usaha, mengakses layanan, dan meningkatkan aktivitas ekonomi secara berkelanjutan. (Dewa)

Editor : TM

Bagikan: