TERNATE, TERBITMALUT.COM — Tim Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) atau dikenal juga Diskusi Kelompok terpumpun yang berlangsung di Kantor Bappelitbangda Kota Ternate Sabtu, (1/6/2024).

“Penelitian yang meneliti tentang situs-situs megalitik dan hubung kaitnya dengan Geopark telah memasuki tahun kedua. Penelitian di Kawasan calon Geopark Ternate secara aktif dilakukan oleh BRIN pada tahun 2023 dan 2024,”ujar Putri Taniardi Peneliti BRIN seperti rilis diterima Terbitmalut.com.

Menurutnya, Geopark merupakan konsep pembangunan berkelanjutan yang didasarkan pada tiga pilar utama yakni keanekaragaman geologi, keanekaragaman budaya, dan keanekaragaman hayati yang dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi dan pembangunan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan pemerintah daerah (Perpres 9/2019).

Karena, UNESCO (2016) mendefinisikan geopark sebagai kawasan lindung dengan elemen geologi yang luar biasa – termasuk nilai- nilai arkeologi, ekologi dan budaya dimana masyarakat lokal diundang untuk berpartisipasi dalam melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

Elemen-elemen utama termasuk keragaman geologi, hayati dan budaya dengan tujuan akhir melindungi keanekaragaman bumi (Geodiversity), pelestarian lingkungan, dan pendidikan ilmu bumi yang lebih luas.

“Keragaman budaya dan biologi dalam Geopark bukanlah merupakan sesuatu yang berdiri sendiri namun harus dapat ditemui kenali keterkaitannya dengan keragaman geologi sebagai suatu sistem alam,”jelasnya.

Global Geopark Network (GGN) mendefinisikan Geopark sebagai daerah dengan batas yang jelas yang memungkinkan pembangunan lokal berkelanjutan, baik pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan.

Konsep pengembangan kawasan dilakukan dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan sehingga mampu memberikan dampak regional secara signifikan untuk konservasi, pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya berdasarkan aktivitas pariwisata hijau berkelanjutan (Green Tourism).

“Kawasan Geopark harus memiliki sejumlah situs warisan geologi penting yang memiliki daya tarik keindahan dan kelangkaan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari konsep integrasi konservasi, pendidikan, dan pembangunan ekonomi lokal,”ungkapnya.

Secara singkat Geopark adalah bentuk pemanfaatan ruang kawasan lindung untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pengetahuan sangat penting untuk mencapai implementasi kebijakan di kawasan konservasi.

Karena itu, di samping konservasi dan pengembangan ekonomi lokal, pendidikan juga merupakan salah satu elemen dasar yang harus dimiliki Geopark.

“Tujuan pendirian Geopark adalah untuk mengeksplorasi, mengembangkan, dan merayakan hubungan antara warisan geologis, dan semua aspek kawasan lindung, budaya, dan warisan tak benda. Karena itu, di sebuah Geopark tidak hanya terdapat warisan geologis, tetapi juga warisan budaya, arkeologi, dan keanekaragaman hayati,”bebernya.

Focus Group Discussion menghadirkan narasumber dari Bappelitbangda Kota Ternate, Dinas Kebudayaan Kota Ternate, dan Peneliti dari Brin.

Taufik Djauhar, selaku Kepala Bappelitbangda Kota Ternate menyampaikan, tentang Perencanaan dan pengembangan kawasan aspiring geopark ternate dimulai dari landasan hukum terkait geopark Visi dan misi kota Ternate.

Gambaran umum kota Ternate saat ini seperti Demografi, pertumbuhan ekonomi, indeks pembangunan manusia, pemerintahan, klimatologi Prinsip dasar perencanaan geopark (keberlanjutan, holistik, integratif, tematik dan spasial) dan rencana induk penyusunan Geopark Ternate sudah diinisiasi Kebijakan legal tata ruang ternate.

Gunawan Y. Radjim selaku Jo Hukum Kesultanan Ternate/Kabid Adat se Atorang Dinas Kebudayaan menyampaikan tentang Ternate penuh dengan situs-situs yang oleh orang setempat dikeramatkan yaitu ’jere’ asal katanya dari ziarah bahasa arab yaitu mengunjungi tempat suci, dalam bahasa melayu jerelit artinya keramat.

Dii ternate jere biasanya adalah makam. Makam Aulia, para Mubaligh dan para sultan. Jere yang di ternate hampir semuanya teridentifikasi makam dari tokoh tersebut. Ada 12 titik utama jere yang diziarahi, dengan medium daun pandai, air, bunga rampai, dupa.

Hal ini dilakukan setiap tahun atau pada waktu tertentu di kala urgent, misal jika ada tanda bencana alam atau tanda-tanda alam tertentu maka akan dilakukan ziarah. Semua itu dinamakan ziarah kutub atau mendaki gunung atau fere kiye. 12 titik disinggahi dan diziarahi oleh pemangku adat dan pemangku agama.

Jere ini dimaknai lekat dengan masyarakat ternate sangat luas, salah satunya yaitu untuk mengingat kematian, mengingat akhirat. Semakin ke sini dimaknai dengan semakin beragam dengan tujuan minta kaya, minta rezeki, esensi sesungguhnya adalah kebiasaan ini dilakukan tidak hanya ternate namun seluruh maluku utara.

Medium seperti air, dupa, pandan, bunga dan sebagainya itu merupakan perwujudan dari Annasir Allah atau zat Allah untuk menciptakan BUMI (empat unsur, api, tanah,air dan udara)

Kosmologi penciptaan ruang di Ternate, ada unsur kekuatan yang melekat tata ruang ternate sejak dulu, maka penyediaan bunga rampe tadi harus tegak lurus dengan Tawaran konsep Kota Tua Ternate (Lambang Harmonisasi antar umat Orang melayu, orang arab, orang cina dan orang nasrani berada dalam satu kawasan).

Sementara, Dr. Chusni Ansori, selaku peneliti dari Pusat Riset Sumberdaya Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, BRIN menyampaikan, tentang uraian mengenai relasi manusia dan alam. Filosofi ternate terkait relasi manusia dan alam (Toma Ua Hang Moju, Toma Limau Gapi Matubu, Jou Se Ngofangare) mirip dengan filosofi memayu hayuning Bawono sejarah Pergerakan bumi di Ternate.

Urgensi riset, minat besar pemerintah menuju geopark ternate, kaya dengan potensi biologi, geologi dan Budaya tahun 2020, sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi indonesia. Untuk mengetahui keterkaitan(hubung kait) antara keragaman budaya dengan keragaman geologi pada kawasan calon geopark ternate Branding geopark akan kuat dengan basis budayanya Prosesi kololi kie, Penempatan jere, biasanya dekat dengan sungai, relatif datar, resiko bahaya yang kecil hal ini kemungkinan besar ada kearifan lokal yang memandu.

Persyaratan penetapan Geopark Pentahelix dalam geopark Focus Group Discussion ini dihadiri juga oleh peserta dari komunitas Halmahera Wildlife Photography, Pos Pengamatan Gunung Api Gamalama, Komunitas Ternate Geopark Youth Forum, Forum komunikasi DAS Gamalama, Komunitas Laras Kie raha, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Fisipol UMMU, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Ternate, Badan Pengelola Aspiring Geopark Ternate, dan Laboratorium Geologi UMMU.

Selain pemaparan dari narasumber, peserta FGD turut berpartisipasi aktif dalam diskusi dan memberikan masukan serta informasi seputar kebudayaan Ternate. Selain itu, disampaikan pula informasi tentang keragaman hayati dan kebencanaan Kota Ternate. (**)

Editor : Sukur

Bagikan: