“Ironi Peradaban: Saat Penjaga Justru Menjadi Perusak”
Oleh ; Arafik A. Rahman
Sadarkah kita, bahwa memang betul kemajuan teknologi hari ini sulit dideskripsikan. Jika pun dipaksa, mungkin kita hanya mampu menyebutnya dengan satu kata: dahsyat. Namun sayangnya, kemajuan itu tidak berjalan seiring dengan pertumbuhan moralitas dan etika. Kita justru dihadapkan pada sebuah ironi besar: mereka yang diberi label penjaga, justru menjadi aktor yang merusak segalanya. Chris Hedges, seorang jurnalis dan pemikir kritis asal Amerika, pernah mengatakan bahwa kita hidup di zaman di mana pengacara merusak keadilan, dokter merusak kesehatan dan perbankan merusak ekonomi.
Ungkapan Chris Hedges tentang kerusakan itu bukanlah sekadar retorika pesimistis, melainkan cermin retak yang memantulkan wajah peradaban kita hari ini. Di arena hukum, pengacara yang seharusnya menjadi benteng keadilan kerap terjebak dalam labirin kepentingan. Hukum dipelintir menjadi alat tawar-menawar, bukan lagi instrumen kebenaran. Dalam perspektif Ronald Dworkin, hukum seharusnya dipahami sebagai integritas, sebuah kesatuan moral yang tidak boleh dipisahkan dari keadilan itu sendiri. Namun ketika integritas digadaikan, hukum berubah menjadi sekadar teks yang bisa dinegosiasikan.
Dalam panggung politik, politisi tidak lagi sekadar kehilangan arah ideologis, tetapi juga kehilangan rasa. Politik yang seharusnya menjadi ruang kepekaan berubah menjadi arena transaksi. Fenomena ini sejalan dengan kritik Hannah Arendt tentang “banalitas kejahatan”, di mana kerusakan tidak selalu lahir dari niat jahat yang besar, tetapi dari kebiasaan kecil mengabaikan etika. Politisi yang merusak politik bukan selalu mereka yang berteriak lantang, tetapi seringkali mereka yang diam ketika keburukan terjadi.
Sama halnya dengan dunia kesehatan yang vital, ia pun tak luput dari distorsi. Dokter yang dahulu dipandang sebagai penjaga kehidupan kini berada dalam tekanan industri medis yang kapitalistik. Kritik Ivan Illich dalam Medical Nemesis terasa semakin relevan: bahwa institusi medis dapat menjadi ancaman bagi kesehatan itu sendiri ketika ia kehilangan orientasi kemanusiaannya. Kesehatan bukan lagi tentang penyembuhan, melainkan tentang pasar.
Di bidang ekonomi, para ekonom seringkali terjebak dalam abstraksi model yang jauh dari realitas rakyat. Mereka merumuskan angka, tetapi lupa pada manusia. Joseph Stiglitz pernah mengingatkan bahwa ketimpangan bukanlah kecelakaan, melainkan hasil dari kebijakan yang salah arah. Ketika ekonomi hanya dilihat sebagai pertumbuhan tanpa keadilan, maka ia bukan lagi alat kesejahteraan, melainkan mesin eksklusi.
Namun ironi ini belum selesai. Di ruang-ruang kelas, pendidikan yang seharusnya membebaskan justru kerap dibelenggu oleh rutinitas tanpa jiwa. Dosen, yang semestinya menjadi pelita pengetahuan dan pembentuk nalar kritis, dalam beberapa kasus terjebak dalam mekanisme administratif dan formalitas semata. Pendidikan direduksi menjadi sekedar penyampaian materi, bukan proses pembebasan. Dalam gagasan Paulo Freire, pendidikan adalah jalan menuju kesadaran kritis. Tetapi ketika guru dan dosen kehilangan daya reflektifnya, sekolah dan universitas bisa berubah menjadi ruang komersil yang hanya melahirkan ijazah, bukan pemikiran.
Di sisi lain, dunia informasi menghadapi krisis yang tak kalah serius. Wartawan, yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran, kini sering berada dalam pusaran kepentingan politik dan ekonomi. Informasi diproduksi bukan lagi untuk mencerahkan, melainkan untuk mempengaruhi. Walter Lippmann pernah menegaskan bahwa publik memahami dunia melalui media. Namun jika media kehilangan integritas, maka yang lahir bukanlah pemahaman, melainkan ilusi yang dikonstruksi secara sistematis.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa profesi-profesi mulia ini justru berbalik arah? Jawabannya mungkin dapat ditelusuri melalui lensa Max Weber tentang rasionalitas instrumental. Dalam masyarakat modern, segala sesuatu diukur berdasarkan efisiensi, keuntungan dan hasil yang terukur. Nilai-nilai etis yang tidak bisa dikalkulasi perlahan disingkirkan. Manusia terperangkap dalam “sangkar besi” rasionalitas, di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari kebaikan, tetapi dari capaian material.
Namun persoalan ini tidak berhenti pada sistem. Ia juga menyentuh dimensi batin manusia. Ketika integritas menjadi pilihan, bukan kewajiban, maka kehancuran hanyalah soal waktu. Dalam bahasa Alasdair MacIntyre, kita hidup dalam dunia yang kehilangan “tradisi kebajikan”, di mana praktik profesional tidak lagi ditopang oleh nilai moral yang kokoh.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa di tengah kerusakan yang tampak sistemik, selalu ada ruang untuk memperbaiki. Tidak semua politisi merusak politik, tidak semua pengacara menjual keadilan, tidak semua dokter mengkomersialisasi kesehatan, tidak semua ekonom mengabaikan rakyat, tidak semua guru mengabaikan makna pendidikan, dan tidak semua wartawan mengkhianati kebenaran. Harapan selalu hidup pada mereka yang masih setia pada nurani.
Maka mungkin, yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar reformasi institusi, tetapi revolusi kesadaran. Sebab, peradaban tidak runtuh karena ketiadaan sistem, melainkan karena hilangnya jiwa dalam menjalankan sistem itu sendiri. (**)




