ads
ads
ads
ads

“Penyebab Perpisahan Dalam Cinta dan Pernikahan”

Oleh: Arafik A Rahman

Ada satu kata yang tak pernah tuntas diperbincangkan, yaitu Cinta. Semua dari kita memiliki pengalaman yang bervariasi, sehingga pendefinisian tentang cinta tidak selalu terikat oleh teori semata. Teorinya fleksibel, akan selalu ada temuan-temuan dan definisi-definisi baru sampai dunia ini berhenti merotasi dirinya.

Anda boleh mendefinisikan cinta itu sesuatu yang indah, suci dan penuh kebahagiaan. Orang lain juga berhak mengatakan cinta itu penuh liku, simphoni, tangisan, luka dan juga kebahagiaan. Begitu juga dengan saya, bahwa cinta adalah energi yang menghadirkan Hitam-Putihnya kehidupan. Ia mesti terus diperjuangkan, tak boleh berhenti. Sebab perpisahan bukan selalu takdir. Ia seringkali adalah hasil dari cinta yang berhenti diperjuangkan.

Cinta awalnya, selalu datang dengan tampak yang sederhana. Dua manusia dipertemukan oleh rasa, oleh harapan, lalu diproyeksikan dengan perencanaan masa depan yang seolah pasti. Tetapi waktu mengkonfirmasikan kita tentang eksistensinya: Cinta bukan sekadar perasaan, tetapi medan ujian yang penuh godaan, tekanan dan pilihan-pilihan sulit.

Di Maluku Utara hari ini, kita menyaksikan dinamika yang tak lagi bisa dipungkiri. Ada banyak sekali perpisahan di depan kita, bisa jadi anda, dia atau saya sendiri. Deretan perpisahan itu, baik dalam pacaran maupun pernikahan bukan lagi peristiwa langka, tetapi menjadi cerita yang berulang dengan pola yang hampir serupa di telinga kita. Ini bukan dongeng seperti film Harry Potter atau Abunawas di masa lalu, ini fakta yang menghampiri kita.

Ketika, perempuan mulai matang secara ekonomi, naik kelas di posisi sosial. Katakanlah mereka memperoleh pekerjaan tetap sebagai ASN atau PPPK, dan atau pekerjaan lainnya. Disitulah awal terjadi over confidence atau lonjakan kepercayaan diri, mempengaruhi cara pandang terhadap hubungan sebuah cinta. Ini tentu bukan kesalahan. Namun di titik tertentu, perubahan ini sering diiringi oleh gaya hidup yang meningkat, dorongan mengikuti tren, serta bisikan dari lingkaran terdekat: keluarga dan teman atau sahabat yang kadang lebih kuat daripada suara hati sendiri.

Pada tahun 2009 di Stanford university Amerika Serikat, seorang sosiolog Michael J. Rosenfeld meneliti penyebab perpisahan dengan judul penelitiannya “How Couples Meet and Stay Together”. Ia menemukan bahwa sekitar 69% atau sekitar 0,8 % perpisahan atau perceraian diinisiasi oleh perempuan. Dan 31 % atau sekitar 0,3 % disebabkan oleh pria. Bahwa wanita lebih cenderung terpengaruh oleh beberapa faktor: keluarga, sahabat, ekonomi, emosional dan psikologis. Sementara pria cenderung terpengaruh oleh prinsip, posesifisme dan ego. Membuat pria cenderung bertahan daripada keinginan untuk berpisah.

Namun perlu dipahami, ini bukan soal siapa yang salah. Rosenfeld tidak mengklaim bahwa perempuan “penyebab utama”, melainkan menunjukkan bahwa perubahan sosial, kemandirian perempuan, membuat mereka tidak lagi bertahan dalam hubungan yang dianggap tidak adil atau tidak sehat. Di lapangan, realitas ini terasa dekat: ketika standar hidup meningkat, ekspektasi terhadap pasangan ikut berubah. Jika tidak diimbangi dengan komunikasi dan pertumbuhan bersama, hubungan menjadi rapuh.

Sementara itu, laki-laki, persoalan tak kalah kompleks. Banyak perpisahan lahir dari ketidakcocokan yang tak pernah diselesaikan dengan dewasa. Ego dipelihara, komunikasi dihindari dan masalah dibiarkan menumpuk seperti bara dalam sekam. Sebagian lagi terjerumus pada godaan lain: hadirnya perempuan lain sebagai pelarian. Ketika jabatan atau posisi memberi akses dan kekuasaan, sebagian pria kehilangan arah. Mereka lupa bahwa kesetiaan bukan soal kesempatan, tetapi soal integritas.

Ada pula yang terjebak dalam situasi, tekanan pekerjaan, ambisi jabatan, hingga tuntutan sosial yang perlahan menjauhkan mereka dari rumah, baik secara fisik maupun emosional. Di titik ini, cinta mulai kehilangan pijakan. Seperti yang diingatkan oleh Erich Fromm dalam “The Art of Loving”, love is building, cinta bukan sekadar perasaan spontan, melainkan seni membangun bangunan cinta yang membutuhkan disiplin, tanggung jawab dan kesadaran. Ketika cinta tidak lagi dibangun, ia mudah digantikan oleh perbandingan sosial dan ambisi personal.

Sebab, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama berkontribusi dalam retaknya hubungan. Hanya bentuknya yang berbeda. Tetapi ada fenomena lain, mengapa Ada cinta yang tetap bertahan meski berjauhan?. Di tengah banyaknya kisah perpisahan, ada pula cerita yang tampak sederhana namun kuat: hubungan jarak jauh yang tetap utuh. Misalnya istri di Morotai, suami di Jakarta, bahkan ada yang di luar negeri, bertemu setahun sekali, tetapi tetap saling percaya. Apa yang membuat mereka bertahan?.

Jawabannya kembali pada kualitas cinta itu sendiri. Kahlil Gibran pernah menulis: “Biarkan ada ruang di antara kalian, agar angin surga dapat menari di antara kalian.” Cinta tidak harus selalu dekat secara fisik. Ia butuh ruang untuk bernapas. Serupa dengan Erick Fromm, yang menegaskan bahwa cinta sejati berdiri di atas empat pilar: perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan. Pasangan yang berjauhan tetapi tetap kuat, biasanya memiliki:

Kepercayaan yang dibangun, bukan sekadar diasumsikan. Komunikasi yang hidup, bukan sekadar formalitas dan komitmen yang dijaga, bukan tergantung situasi. Jarak tidak menghancurkan cinta. Justru ia menguji: apakah hubungan itu dibangun oleh kebutuhan atau oleh kesadaran.

Lalu, bagaimana cara menjaga cinta hemat saya, pertama: komunikasi yang jujur adalah fondasi. Tanpa itu, cinta hanya akan menjadi asumsi yang rapuh. Kedua, batasi intervensi pihak luar. Cinta bukan ruang ramai, ia butuh ketenangan untuk tumbuh dalam privasi. Ketiga, kendalikan gaya hidup dan ekspektasi. Jangan biarkan tren menggantikan nilai. Keempat, rawat komitmen, bukan hanya perasaan. Perasaan bisa berubah, tetapi komitmen adalah keputusan. Dan kelima, bertumbuh bersama atau bersiap berpisah. Karena stagnasi adalah awal dari jarak yang sebenarnya.

Cinta bukan sekadar menemukan orang yang tepat, tetapi tentang menjadi orang yang siap untuk tetap bertahan. Penelitian memang memberi kita data, filsuf memberi kita makna dan realitas memberi kita pelajaran. Namun, pilihan tetap ada di tangan kita. Cinta yang tak dirawat akan kalah oleh realitas yang tak pernah berhenti menekan.

Dan di antara semua alasan yang ada, satu pertanyaan akan selalu tersisa: Apakah kita benar-benar mencintai atau hanya tidak siap kehilangan?. (**)

Bagikan: