ads
ads
ads

“Ucapan yang Kembali kepada Pemiliknya Refleksi dari Tanah Ternate,”

Oleh : Bellarosita Faisal

ORANG-orang tua di Ternate dahulu tidak banyak bicara. Mereka berbicara seperlunya saja, tetapi anak-anak mengingat ucapan mereka sampai bertahun-tahun kemudian. Mungkin karena kata-kata pada masa itu tidak dihamburkan seperti sekarang. Saya masih ingat bagaimana orang tua selalu mengingatkan agar jangan mudah berjanji. Mereka tidak marah ketika dinasihati, tidak pula meninggikan suara. Tetapi ada ketakutan yang terasa dalam cara mereka berbicara, seolah-olah janji bukan sekadar ucapan yang akan hilang setelah keluar dari mulut.

“Jangan berjanji kalau tidak mampu menepatinya,” begitu kata mereka. Waktu kecil, saya mengira itu hanya nasihat biasa. Baru setelah dewasa saya mulai memahami bahwa orang-orang tua dahulu rupanya lebih takut pada ucapan mereka sendiri daripada pada penilaian manusia lain.

Saya pernah melihat seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya tentang janji-janji yang belum ditunaikan. Keluarganya mendekat satu per satu. Mereka bertanya pelan-pelan, apakah ada hutang, nazar, atau amanah yang belum diselesaikan. Ada kegelisahan di wajah mereka. Seolah-olah ada sesuatu yang belum boleh selesai sebelum semua ucapan itu menemukan tempatnya kembali.

Di kampung-kampung, cerita seperti itu bukan hal asing. Ada orang yang dipercaya hidupnya terus dirundung kesulitan karena pernah mengingkari janji. Ada yang sakit berkepanjangan. Ada pula yang disebut-sebut belum mendapatkan keturunan karena ucapan yang pernah ia abaikan sendiri.

Benar atau tidak, saya tidak tahu. Tetapi semakin dewasa, saya mulai merasa bahwa orang tua dahulu tidak sedang menciptakan ketakutan. Namun mereka sedang mengajarkan tanggung jawab.

Di Ternate, ucapan adalah kehormatan. Orang dinilai bukan hanya dari apa yang dimilikinya, melainkan dari bagaimana ia menjaga kata-katanya sendiri. Karena itu orang tua dahulu lebih memilih diam daripada mengucapkan sesuatu yang belum tentu mampu mereka tepati.

Mereka menyimpan nasihat itu dalam dola bololo.

“Janji baya, buru sofo.” Janji yang diingkari adalah aib. Ada pula yang mengatakan: “Janji ua ge laha, janji si to ngonano.” Lebih baik tidak berjanji jika tidak mampu menepatinya.

Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Namun semakin lama dipikirkan, semakin terasa berat maknanya. Sebab ucapan rupanya tidak pernah benar-benar pergi dari hidup manusia. Ia tinggal di ingatan orang lain. Tinggal di dalam hati. Kadang juga tinggal di dalam diri orang yang mengucapkannya.

Barangkali karena itu banyak orang menjelang akhir hidupnya ingin menyelesaikan urusan-urusan lama. Meminta maaf. Membayar hutang. Menepati nazar yang pernah diucapkan bertahun-tahun sebelumnya. Psikologi modern mungkin memiliki penjelasan sendiri tentang itu. Leon Festinger menyebut adanya kegelisahan ketika ucapan dan tindakan tidak berjalan beriringan. Tetapi orang-orang tua dahulu tampaknya telah memahami hal itu jauh sebelum teori-teori lahir di ruang kuliah.

Mereka melihatnya langsung dalam kehidupan manusia. Mereka melihat bagaimana rasa bersalah dapat tinggal lama di dalam diri seseorang. Bagaimana pikiran yang tidak tenang perlahan ikut mengganggu tubuh. Bagaimana manusia kadang dihukum oleh kata-katanya sendiri.

Dalam Islam, janji juga dipandang sebagai amanah. Allah SWT berfirman: “Dan tepati lah janji, karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra’: 34) Ayat itu mengingatkan bahwa ucapan bukan sesuatu yang selesai setelah diucapkan. Ada tanggung jawab yang ikut hidup bersamanya. Nabi Muhammad juga mengingatkan pentingnya menjaga amanah dan menepati janji sebagai bagian dari akhlak manusia.

Mungkin karena itulah orang-orang tua dahulu begitu berhati-hati menjaga lisan mereka. Mereka sadar bahwa manusia sering lupa pada kata-kata yang pernah diucapkannya sendiri. Tetapi hidup, entah bagaimana caranya, selalu punya jalan untuk mengingatkan kembali. Dan barangkali memang benar: ucapan yang keluar dari mulut akan selalu menemukan jalan untuk kembali kepada pemiliknya. (**)

Bagikan: