“Jika Mereka Punya Kartini, Kita Juga Punya Martha Tiahahu”
Oleh ; Bung Opickh (Penulis Buku)
Sebuah Opini Peringatan Hari Kartini
Di setiap tanggal 21 April, kita seperti diajak menyalakan kembali obor ingatan, bahwa sejarah bangsa ini tidak hanya ditulis oleh tangan-tangan kekuasaan, tetapi juga oleh keberanian perempuan yang melampaui zamannya. Namun seringkali, ingatan kita timpang, terlalu lama bersandar pada satu nama, sementara nama lain yang tak kalah heroik perlahan mengabur di lorong sejarah.
Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni kebaya dan lomba emansipasi yang simbolik. Ia mesti menjadi ruang refleksi, tentang bagaimana perempuan Indonesia telah berjuang, bukan hanya di ruang gagasan, tetapi juga di medan perlawanan. Karena itu, dua sosok dari dua kutub Nusantara layak disandingkan: Raden Ajeng Kartini dan Martha Christina Tiahahu.
Kartini adalah cahaya dari Jepara, seorang perempuan bangsawan yang memilih melawan penindasan melalui pena. Dalam senyap, ia menulis kegelisahan yang melampaui zamannya: tentang pendidikan, kebebasan berpikir dan martabat perempuan. Surat-suratnya, yang kemudian dihimpun dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”, bukan sekadar curahan hati, melainkan manifesto awal tentang kesetaraan perempuan di tanah jajahan.
Kartini tidak mengangkat senjata, tetapi ia menggugat struktur. Ia memahami bahwa kolonialisme tidak hanya menjajah tanah, tetapi juga pikiran. Dalam kerangka ini, Kartini adalah revolusioner epistemik, ia berjuang membebaskan cara berpikir perempuan dari kungkungan tradisi yang membatasi dan sistem kolonial yang menindas.
Di seberang lain Nusantara, dari tanah Maluku, lahir seorang gadis belia yang memilih jalan berbeda. Martha Christina Tiahahu tidak menulis surat kepada dunia; ia berbicara melalui keberanian di medan perang. Pada usia yang sangat muda, ia berdiri di garis depan melawan kolonialisme Belanda dalam medan Perang Pattimura, bersama ayahnya dan para pejuang lainnya.
Jika Kartini adalah suara yang menggema di ruang intelektual, maka Tiahahu adalah dentum yang menggetarkan medan tempur. Ia bukan sekadar simbol keberanian perempuan, tetapi representasi dari resistansi total terhadap penindasan. Bahkan dalam penangkapan dan pengasingannya, ia menolak tunduk, sebuah sikap yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah harga mati, bahkan bagi seorang remaja perempuan.
Dua perempuan ini lahir dari konteks yang berbeda, tetapi keduanya berbagi satu kesamaan mendasar: keberanian untuk melampaui batas yang ditentukan oleh zamannya. Kartini melawan dengan gagasan; Tiahahu melawan dengan tindakan. Yang satu membongkar struktur sosial melalui kata, yang lain merobek dominasi kolonial melalui perlawanan fisik.
Di sinilah kita perlu jujur pada sejarah: bahwa emansipasi perempuan Indonesia tidak tunggal. Ia bukan hanya tentang akses pendidikan atau kebebasan berpikir, tetapi juga tentang keberanian mengambil posisi dalam situasi paling genting. Kartini dan Tiahahu adalah dua kutub yang saling melengkapi: akal dan keberanian, pena dan parang, pencerahan dan aksi.
Sayangnya, narasi nasional sering kali lebih ramah kepada Kartini dibanding Tiahahu. Bukan karena Kartini lebih penting, tetapi karena sejarah kita cenderung Jawa-sentris dan kurang memberi ruang bagi heroisme dari wilayah timur. Akibatnya, Tiahahu kerap hadir sebagai catatan kaki, bukan sebagai narasi utama. Padahal, jika kita ingin membangun kesadaran kebangsaan yang utuh, kita harus merawat ingatan yang adil.
Hari Kartini seharusnya tidak hanya merayakan satu figur, tetapi juga membuka ruang bagi banyak “Kartini lain” dari berbagai daerah, termasuk Tiahahu, yang darah dan keberaniannya turut menyiram pohon kemerdekaan Indonesia. Dengan begitu, peringatan ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih dikenal, tetapi siapa yang kita pilih untuk terus dikenang. Maka hari ini, kita tidak hanya menyebut satu nama, tetapi merangkul semua jejak perjuangan perempuan di seluruh penjuru Nusantara.
Selamat Hari Kartini.
Untuk Raden Ajeng Kartini, untuk Martha Christina Tiahahu, untuk Cut Nyak Dien, untuk Malahayati dan untuk semua perempuan hebat yang pernah berdiri melawan kolonialisme: dengan pena, dengan keberanian atau dengan nyawa mereka sendiri. (**)




