ads
ads
ads
ads

“Merawat Kepercayaan Rakyat di Era Kepemimpinan Rusli–Rio”

Oleh: Arafik A Rahman

KEKUASAAN, yang lahir dari cinta rakyat selalu memiliki harapan yang lebih besar dibanding kekuasaan yang lahir semata-mata dari transaksi politik. Sebab di dalamnya ada keyakinan, kerinduan, bahkan harapan panjang masyarakat terhadap perubahan. Begitulah kira-kira wajah kemenangan Rusli Sibua dan Rio C. Pawane di Pulau Morotai. Kemenangan yang tidak hanya dibaca sebagai hasil kerja mesin politik, tetapi juga sebagai akumulasi kepercayaan rakyat kepada dua sosok yang mereka anggap mampu membawa Morotai ke arah yang lebih baik.

Rusli Sibua bukan nama baru dalam perjalanan birokrasi dan politik Morotai. Ketokohannya tumbuh sejak menjadi seorang birokrat hingga mencapai puncak karier sebagai Sekretaris Daerah. Dari ruang birokrasi itulah ia dikenal sebagai figur yang memahami denyut pemerintahan sekaligus karakter masyarakat Morotai. Pengalaman itu, kemudian membawanya menjadi Bupati pada periode 2011–2015. Jejak kepemimpinannya pada masa itu masih membekas di sebagian masyarakat, hingga menjadi salah satu alasan mengapa rakyat kembali menitipkan harapan kepadanya untuk memimpin Morotai pada periode 2025–2030.

Di sisi lain, hadirnya Rio C. Pawane memberi warna berbeda dalam kepemimpinan ini. Sosok muda, murah senyum, sederhana, pekerja keras, dan relatif mudah membuka komunikasi dengan siapa saja. Dalam banyak kesempatan, Rio terlihat sebagai representasi energi baru dalam pemerintahan. Kombinasi Rusli yang matang secara birokrasi dan Rio yang energik membuat pasangan ini dipandang sebagai perpaduan pengalaman dan semangat perubahan.

Karena itu, kemenangan mereka sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh kekuatan finansial, konsolidasi partai, atau kerja tim semata. Ada fenomena sosial yang tidak bisa diabaikan: rakyat datang sendiri, bergerak sendiri, bahkan mempertahankan keyakinannya sendiri untuk memenangkan Rusli–Rio. Dalam politik, momentum seperti ini jarang terjadi. Tidak semua pemimpin mendapatkan kemewahan berupa cinta rakyat sebelum benar-benar bekerja.

Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa cinta rakyat adalah sesuatu yang harus dirawat, bukan diwarisi selamanya. Dalam teori kepemimpinan transformasional yang diperkenalkan James MacGregor Burns dan dikembangkan Bernard Bass, seorang pemimpin besar bukan hanya mampu memenangkan kekuasaan, tetapi juga mampu menjaga kepercayaan publik, menerima kritik, dan mengubah harapan masyarakat menjadi arah pembangunan yang nyata.

Pemimpin yang bijaksana tidak takut pada kritik, sebab kritik adalah cermin yang menjaga kekuasaan tetap waras. Di titik inilah kepemimpinan Rusli–Rio mulai memasuki ujian sebenarnya. Sebab setelah kemenangan, tantangan terbesar bukan lagi lawan politik, tetapi orang-orang di sekitar kekuasaan itu sendiri.

Dalam banyak peristiwa sejarah, kekuasaan sering kali runtuh bukan karena musuh di luar, tetapi karena pujian berlebihan dari lingkar dalam. Orang-orang yang setiap hari mengatakan “semua baik-baik saja”, padahal di luar sana rakyat mulai kecewa. Ada banyak pemimpin yang awalnya dicintai, namun perlahan dijauhkan dari realitas oleh kelompok yang ingin menjaga pengaruh di sekitar kekuasaan.

Kita belajar dari kisah Soeharto di akhir masa kekuasaannya. Di masa-masa akhir itu, kritik sulit masuk ke dalam istana. Informasi disaring oleh orang-orang dekat. Yang terdengar hanyalah pujian dan laporan baik. Padahal kemarahan rakyat sedang tumbuh di luar. Ketika seorang pemimpin terlalu lama hidup dalam gema pujian, ia perlahan kehilangan kemampuan membaca kenyataan.

Karena itu, menjaga kekuasaan tetap rasional jauh lebih sulit dibanding memenangkan Pilkada. Hari ini masyarakat Morotai sebenarnya masih percaya kepada Rusli–Rio. Mereka masih melihat keduanya sebagai orang baik. Hanya saja, kepercayaan itu perlahan diuji oleh situasi di sekitar pemerintahan.

Program bantuan janda lansia misalnya. Pada awalnya program itu menghadirkan harapan besar bagi masyarakat kecil. Namun kondisi efisiensi dan penurunan fiskal daerah akibat kebijakan pemerintah pusat membuat nilainya turun dari dua juta menjadi tiga ratus ribu rupiah per bulan. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, tentu situasi ini menimbulkan pertanyaan.

Meski demikian, menariknya masyarakat belum sepenuhnya marah. Banyak yang masih bertahan dalam keyakinan bahwa pemerintah sedang mencari solusi untuk menormalkan kembali program tersebut. Artinya, modal sosial berupa kepercayaan rakyat sebenarnya masih ada. Tetapi masalah lain muncul: lemahnya komunikasi publik pemerintah.

Tidak semua masyarakat mengakses media digital resmi pemerintah daerah. Sementara kemampuan sebagian instansi dan juru bicara pemerintah dalam menjelaskan kondisi daerah juga belum maksimal. Akibatnya, ruang kosong informasi sering kali diisi oleh asumsi, amarah, bahkan fitnah. Padahal dalam era modern, komunikasi adalah separuh dari kepemimpinan itu sendiri.

Dalam pandangan Jurgen Habermas melalui bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere, legitimasi kekuasaan modern tidak hanya dibangun melalui keputusan politik, tetapi juga melalui komunikasi yang rasional, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan di ruang publik. Habermas menjelaskan bahwa ketika pemerintah gagal menghadirkan penjelasan yang jujur kepada masyarakat, maka ruang publik akan mudah dipenuhi rumor, prasangka dan manipulasi informasi. Karena itu, pemerintahan yang sehat tidak hanya sekedar bekerja untuk rakyat, tetapi juga mampu berdialog dengan rakyat secara terbuka dan dewasa.

Program lain seperti anggaran pemuda dua ratus juta untuk 88 desa, normalisasi TPP ASN, hingga berbagai visi-misi lain juga masih menunggu formulasi dan langkah nyata yang lebih matang. Masyarakat sesungguhnya bisa memahami keterbatasan anggaran, tetapi rakyat perlu dijelaskan dengan jujur. Sebab rakyat yang diberi penjelasan akan lebih sabar dibanding rakyat yang dibiarkan menebak-nebak keadaan.

Dalam pendekatan SWOT, kepemimpinan Rusli–Rio sebenarnya memiliki kekuatan besar. Kekuatan itu ada pada figur keduanya yang relatif masih dicintai rakyat. Rusli memiliki pengalaman birokrasi dan pengaruh sosial yang kuat, sementara Rio memiliki energi muda dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok.

Tetapi kelemahannya juga terlihat jelas: komunikasi pemerintahan yang belum solid, birokrasi yang masih terpecah, banyak jabatan kosong atau dipimpin PLT, serta adanya sebagian orang di lingkar kekuasaan yang belum mampu membedakan antara menjadi pelayan rakyat dan menjadi “penguasa kecil”.

Di sisi peluang, Rusli–Rio masih memiliki waktu dan legitimasi politik yang kuat untuk melakukan pembenahan. Rakyat Morotai pada dasarnya tidak menuntut kesempurnaan instan. Mereka hanya ingin melihat arah, ketegasan dan niat baik yang benar-benar dijalankan. Namun ancamannya juga nyata: konflik elite birokrasi, perebutan kursi, budaya fitnah, serta sikap arogan sebagian kecil orang di sekitar kekuasaan yang masih merasa Pilkada belum selesai.

Padahal memenangkan Rusli–Rio bukan kerja lima atau sepuluh orang saja. Ada ribuan rakyat yang ikut bergerak, berharap, bahkan mempertaruhkan keyakinan untuk kemenangan itu. Karena itu, sangat tidak tepat jika hari ini ada sebagian kecil orang yang bersikap seolah-olah merekalah pemilik tunggal kemenangan. Kekuasaan yang sehat mestinya menghadirkan keteduhan, bukan jarak sosial baru.

Pilkada telah selesai. Hari ini masyarakat tidak lagi membutuhkan barisan tim sukses yang sibuk mempertontonkan kedekatan dengan kekuasaan. Yang dibutuhkan rakyat adalah jembatan komunikasi, pelayanan yang baik dan suasana pemerintahan yang nyaman. Orang-orang di sekitar Bupati dan Wakil Bupati seharusnya menjadi wajah keramahan kekuasaan, bukan wajah arogansi kekuasaan.

Sebab sering kali citra buruk seorang pemimpin bukan dibentuk oleh dirinya sendiri, tetapi oleh perilaku orang-orang di sekitarnya. Dibenak saya, sampai saat ini Rusli Sibua adalah orang baik. Rio Pawane mungkin juga memiliki niat baik. Tetapi dalam politik dan pemerintahan, kebaikan pribadi saja tidak cukup. Kebaikan harus dijaga oleh sistem yang sehat dan lingkungan kekuasaan yang waras.

Seorang pemimpin yang baik juga harus berani menertibkan orang-orang yang menggunakan namanya untuk kepentingan pribadi, dendam politik, atau kesombongan sosial. Morotai membutuhkan pemerintahan yang adil, unggul dan sejahtera. Bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam suasana batin masyarakat. Sebab kesejahteraan tidak hanya diukur dari angka pembangunan, melainkan juga dari rasa nyaman rakyat terhadap pemerintahnya sendiri.

Masih ada waktu bagi Rusli–Rio untuk memperbaiki banyak hal. Menyatukan elite birokrasi, membuka ruang kritik, memperbaiki komunikasi publik, merangkul anak-anak muda yang belum mendapat ruang dan memastikan bahwa kekuasaan ini benar-benar bekerja untuk semua orang. Karena itu, kekuasaan bukan soal siapa yang paling dekat dengan pemimpin hari ini. Tetapi tentang siapa yang tetap dikenang rakyat setelah kekuasaan itu berakhir.

Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan bahwa tulisan ini lahir bukan dari kebencian, apalagi kepentingan untuk menjatuhkan siapa pun. Saya juga adalah bagian kecil dari masyarakat dan birokrasi yang kemarin turut menitipkan hak suara, harapan, serta keyakinan kepada kepemimpinan Rusli–Rio. Sampai hari ini, saya masih meyakini bahwa Rusli Sibua dan Rio C. Pawane adalah dua sosok yang memiliki niat baik untuk Morotai.

Karena itu, jika dalam tulisan ini terdapat kekurangan kata, kekeliruan sudut pandang, atau kalimat yang kurang berkenan, maka sebagai manusia biasa, kiranya dimaafkan dengan segala kerendahan hati. Sebab yang ingin dijaga sesungguhnya bukan sekadar citra kekuasaan, tetapi kepercayaan rakyat yang telah diberikan dengan tulus.

Morotai masih menaruh harapan besar. Masih ada waktu untuk membuktikan semuanya. Benahi yang kurang, rangkul yang jauh, tenangkan yang kecewa dan satukan kembali energi besar rakyat Morotai untuk pembangunan yang lebih adil, unggul dan sejahtera.

Biarkan sejarah kelak mengenang kepemimpinan Rusli–Rio bukan hanya karena pernah berkuasa, tetapi karena mampu menjaga amanah rakyat dengan kebijaksanaan dan hati nurani. Agar nama itu tetap hidup dalam ingatan masyarakat: esok, nanti dan selamanya.

DISCLAMER : Kekuasaan tidak diuji ketika semua orang memuji, tetapi ketika pemimpin tetap tenang mendengar kritik. (**)

Bagikan: