WEDA, TERBITMALUT.COM — Generasi muda Halmahera Tengah mendorong keterlibatan aktif dalam perencanaan pembangunan kota melalui tiga gagasan utama: Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Komunitas, Kalender Event Kota, dan penyusunan buku komik tentang Pahlawan Nasional asal Halmahera Tengah, Salahuddin Bin Talabudin.
Gagasan tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk “Pemuda Berbicara, Kota Berubah” yang digelar oleh Buzz Muda-Mudi Kota di panggung Wema Fest, Weda, Rabu malam (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Forum ini mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, dan kalangan pemuda untuk membedah arah perkembangan Weda di tengah pesatnya pertumbuhan industri. Diskusi menyoroti pentingnya ruang partisipasi publik, pelestarian identitas budaya, serta keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
Pemuda sebagai Ekosistem Pembangunan
Bupati Halmahera Tengah, Ikram M. Sangadji, menegaskan bahwa pemuda harus dipandang sebagai bagian dinamis dari ekosistem pembangunan, bukan sekadar objek seremonial.
“Pemuda itu sebagai ekosistem yang dinamis yang membutuhkan ruang,” ujar Ikram. Menurutnya, pemerintah wajib membuka ruang komunikasi agar generasi muda dapat leluasa menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam proses pembangunan.
“Tanpa partisipasi yang terbuka, potensi besar yang dimiliki pemuda tidak akan berkembang secara optimal. Hubungan yang cair antara pemerintah dan anak muda juga diyakini mampu melahirkan gagasan kreatif yang memperkaya arah pembangunan daerah,”jelasnya.
Tata Kota Berpijak pada Identitas Budaya
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Tata Ruang dan Kawasan Kota, Bambang Prakoso, menekankan bahwa perkembangan kawasan perkotaan harus mencerminkan karakter budaya masyarakat setempat.
“Perkembangan kawasan kota harus mencerminkan kulturalnya. Oleh sebab itu, dalam penataan kota harus diimplementasikan,”kata Bambang.
Ia menilai, pembangunan kota tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur fisik. Perencanaan tata ruang perlu mengakomodasi identitas lokal agar pertumbuhan kawasan tidak menggerus karakter sosial dan budaya masyarakat Fagogoru. Hal ini krusial di tengah transformasi Weda akibat aktivitas industri, guna mempertemukan kebutuhan modernisasi dengan kenyamanan lingkungan.
Peringatan Akademisi: Bahaya Pertumbuhan Sepihak
Sementara itu, akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Sahrony A. Hirto, memotret Weda sebagai kota transisi yang berada di antara karakter agraris dan industrialisasi. Perubahan ini membawa implikasi besar terhadap dinamika sosial, ekonomi, politik, dan tata ruang.
“Pertama, kota yang bertumbuh hanya ekonomi, akan runtuh. Karena ekonomi tumbuh dengan industri,”tegas Sahrony.
Pertumbuhan ekonomi yang berjalan sendiri tanpa diimbangi penguatan aspek sosial-budaya berpotensi memicu persoalan baru. Ia menyoroti sejumlah tantangan, seperti gelombang migrasi dan pertambahan penduduk di kawasan Lelilef, lonjakan harga lahan, serta urgensi memperkuat bahasa dan budaya lokal di tengah arus perubahan.
Selain itu, Sahrony mengingatkan pentingnya distribusi pendapatan daerah yang adil serta peran kelembagaan politik dalam mengelola transisi perkotaan secara menyeluruh.
Menjabarkan Tiga Gagasan untuk Weda
Diskusi interaktif tersebut mengerucut pada tiga gagasan konkret yang didorong menjadi agenda kolaborasi antara pemuda, pemerintah, akademisi, dan sektor industri:
1.Musrenbang Komunitas
Gagasan ini dirancang untuk memperluas ruang partisipasi bagi pemuda, mahasiswa, komunitas kreatif, pegiat lingkungan, dan pelaku UMKM dalam merumuskan usulan pembangunan. Forum berbasis komunitas ini diharapkan menjadi jembatan aspirasi yang melengkapi mekanisme perencanaan formal pemerintah.
2.Kalender Event Kota
Pemuda mendorong penyusunan kalender kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan, mulai dari festival musik, pameran produk lokal, hingga pergelaran budaya. Agenda ini tidak hanya menjadi wadah interaksi sosial, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM dan memperkuat identitas kultural Weda.
3.Komik Pahlawan Nasional Salahuddin Bin Talabudin
Inisiatif ini bertujuan mengenalkan sejarah dan nilai kepahlawanan Salahuddin Bin Talabudin melalui media visual yang akrab dengan generasi muda. Komik diharapkan menjadi sarana edukasi sejarah yang menarik sekaligus memperkokoh kebanggaan terhadap identitas lokal Halmahera Tengah.
Melalui Wema Fest, talkshow “Pemuda Berbicara, Kota Berubah” berhasil merumuskan pesan penting: tantangan masa depan Weda bukan sekadar membangun infrastruktur dan mendongkrak ekonomi, melainkan memastikan setiap perubahan tetap memberi ruang bagi partisipasi pemuda, keberlanjutan budaya, dan kesejahteraan sosial masyarakat. (Dewa)
Editor : TM





