“Jalan Trans Kie Raha: Antara Maha Karya dan Kritik Destruktif”

Oleh ; Arafik A Rahman

(Sekadar Opini untuk Menguatkan Visi Gubernur Maluku Utara: Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?)

TRANS, Kie Raha bukan sekadar jalan. Ia adalah deklarasi masa depan. Pembangunan selalu lahir dari dua rahim: keberanian politik dan rasionalitas teknokratis. Setiap keputusan besar yang mengubah sejarah dunia, mulai dari pembangunan Terusan Panama yang membelah benua hingga jembatan raksasa yang menghubungkan dua kota besar di Eropa tidak pernah lahir dari ruang yang sunyi. Ia ditempa oleh debat yang keras, kritik yang deras, nyali kepemimpinan yang tak ragu mengambil risiko dan sistem kerja yang transparan agar publik percaya.

Dalam konteks itulah Jalan Trans Kie Raha berdiri: sebuah gagasan besar yang memanggil Maluku Utara untuk menentukan dirinya apakah ingin melompat menjadi provinsi yang terkoneksi dan terintegrasi, atau tetap berjalan lambat di jalan-jalan sempit masa lalu. Infrastuktur Besar Memerlukan Komitmen Besar: di balik semua mega proyek dunia, satu pesan kepemimpinan selalu hadir: keberanian mengambil keputusan lebih dulu daripada sempurnanya kondisi.

Terusan Panama, misalnya, hanya bisa selesai karena para pemimpinnya tidak tunduk pada rasa takut. Bahkan jembatan penghubung Øresund antara Denmark–Swedia pernah diragukan karena dianggap terlalu mahal, terlalu teknis dan terlalu berisiko. Namun lihat hari ini, kedua mahakarya itu bukan hanya simbol kebanggaan, tetapi mesin ekonomi yang menggerakkan peradaban baru.

ads

Visi serupa kini dipikul oleh Maluku Utara melalui Jalan Trans Kie Raha. Ini bukan sekadar proyek teknis; ini adalah pernyataan politik yang menyatakan bahwa Halmahera pantas menjadi pulau besar yang memiliki tulang punggung pergerakan darat, bukan sekadar penonton yang bergantung pada jalur laut selamanya. Publik hanya meminta dua hal yang paling sederhana tetapi paling fundamental: transparansi dan uji publik.

Pembahasan Feasibility Study (FS) dan AMDAL bukan sekadar formalitas administratif; ia adalah arena intelektual di mana mahasiswa, OKP, ormas dan akademisi menunaikan mandat demokrasi. Kritik mereka bukan hambatan, itu justru vitamin bagi pembangunan. Seperti kata seorang filsuf modern: demokrasi tanpa kritik adalah otokrasi dengan panggung lebih rapi. Karena itu, ruang diskusi terbuka tentang kelayakan teknis, dampak ekologis, hingga perhitungan sosial-ekonomi harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan Trans Kie Raha. Ketika data dibuka, sentimen mereda. Ketika rencana dijelaskan, kepercayaan tumbuh.

Penetapan Jalan Trans Kie Raha sebagai program strategis prioritas harus dibaca dalam kerangka besar pembangunan wilayah. Jalan ini bukan sekadar memotong jarak ke Sofifi; ia memotong ketergantungan historis pada laut. Ia merajut kabupaten-kota yang terserak di Pulau Halmahera menjadi ruang ekonomi yang lebih padat, dinamis, dan efisien. Jalan ini adalah: Koridor agribisnis untuk memperkuat pangan lokal.

Koridor perikanan untuk logistik yang lebih cepat, Koridor UMKM agar barang tak berhenti di desa.

Kemudian sebagai tourism-based corridor yang memungkinkan Halmahera menjadi magnet wisata, bukan hanya catatan kaki dari destinasi lain, Jalur industri yang menyambungkan lumbung pangan dengan kawasan produksi, Mesin pemangkasan biaya logistik yang selama ini menambatkan rakyat pada harga tinggi dan penghubung simpul-simpul ekonomi modern yang memberi harapan baru bagi masyarakat. Sederhananya: ini bukan proyek jalan; ini proyek masa depan.

Namun mimpi selalu diuji oleh realitas. Total estimasi kebutuhan pengaspalan penuh yang mendekati Rp1 triliun adalah angka yang menuntut kedisiplinan manajemen fiskal. Sementara itu, alokasi APBD-P 2025 yang hanya sekitar Rp.20 miliar untuk pembukaan badan jalan menunjukkan perbedaan skala yang sangat besar. Dengan APBD provinsi sekitar Rp.3,3 triliun, muncul pertanyaan akademis yang wajar: Apakah proyek sebesar ini dapat bergerak ke fase konstruksi berat tanpa model pendanaan multi-year, konsorsium investasi atau dukungan anggaran pusat?.

Ini bukan kritik destruktif; ini pertanyaan rasional agar proyek besar tidak berhenti sebagai slogan. Sehebat apa pun desainnya, seberat apa pun anggarannya, satu hal tetap menentukan: komitmen kepemimpinan dan dukungan publik. Inilah saat di mana Gubernur Maluku Utara dituntut memainkan peran seperti insinyur politik dari proyek-proyek besar dunia menyatukan visi teknokrat, birokrasi, masyarakat dan dunia usaha dalam satu nafas kerja.

ads

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Momentum politik ini tidak akan datang dua kali. Inilah waktu ketika Maluku Utara dapat menulis sejarahnya sendiri, bukan dengan retorika, tetapi dengan hasil yang bisa dilihat dan disentuh oleh generasi mendatang. Setiap proyek besar selalu berada di antara dua kutub: maha karya atau kritik destruktif. Jalan Trans Kie Raha berada tepat di tengah-tengah dua arus ini. Ia bisa menjadi mahakarya yang mengubah struktur ekonomi dan sosial Maluku Utara atau sebaliknya, menjadi korban opini liar jika tidak dibingkai dengan keterbukaan dan akuntabilitas.

Namun sejarah menunjukkan: bangsa dan daerah yang berani melompat lebih cepat daripada rasa takutnya, selalu menang. Maka, dukungan publik bukanlah hadiah; ia harus dijemput dengan transparansi. Dan keberanian gubernur bukanlah pilihan; ia adalah prasyarat untuk membuka jalan yang lebih panjang dari sekadar aspal, tapi jalan menuju masa depan Maluku Utara yang lebih terhubung, lebih efisien, makmur dan menuju masa depan yang elegan. (**)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *