TERNATE, TERBITMALUT.COM — Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membahas pengelolaan Sampah Partisipatif dan Terintegrasi, menuju Lingkungan Bersih dan Berkelanjutan bertempat di Auditorium, Kantor Bappelitbangda Kota Ternate, Kamis (9/4/2026).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Sekda Kota Ternate, H. Rizal Marsaoly, didampingi Kepala Bappelitbangda, Thamrin Marsaoly, Plt Kadis DLH, Musli Muhamad, dan dihadiribDirektur Perumda Ake Gaale, Perwakilan KLH dan para Camat dan Lurah.
Dalam kesempatan itu, H. Rizal Marsaoly menyampaikan, bahwa pemerintah Kota Ternate melalui DLH terus memfokuskan pengelolaan sampah berbasis partisipatif yang lebih spesifik.
Sehingga, kurang lebih ada 5 Kecamatan yang menjadi pilot project, yakni satu Kecamatan hanya satu kelurahan yang dipilih menjadi proyek percontohan (pilot project) pengelolaan sampah berbasis partisipatif diantaranya, Kelurahan Stadion (Ternate Tengah), Mangga Dua Utara (Ternate Selatan), Jambula (Ternate Pulau), Kelurahan Tubo (Ternate Utara) dan Sulamadaha (Ternate Barat).
“Lima kelurahan inilah yang dipilih menjadi pilot project pengolahan sampah berbasis partisipatif. Sehingga ada beda perlakukan yang kita terapkan. Misalnya, selama ini warga membayar iuran sampah Rp.10 ribu yang melekat langsung di rekening air Perumda Ake Gaale, maka sudah tidak lagi membayar ke situ atau kena potongan dari rekening air. Akan tetapi, pembayarannya langsung di Kelurahan melalui ketua-ketua RT yang bertanggung jawab di RTnya masing-masing, dan akan kita terapkan pada bulan Juli 2026 mendatang, jika Perwali nya sudah siap,”ujarnya.
Menurut Rizal, dari hasil penagihan atau pembayaran itu akan dibuka 2-3 persen untuk dijadikan sebagai operasional yang akan kita tuangkan ke dalam Peraturan Wali Kota (Perwali). Sistem atau mekanisme baru ini, memang kita mengadopsi dari Kabupaten Malang.
“Langkah atau model ini akan kita terapkan, karena yang kita lihat kedepan-kedepannya, jika kita tidak buat optimalisasi, maka sampah akan tidak terkontrol atau tidak berjalan maksimal,”jelasnya.
Jika nantinya berjalan pada bulan Juli mendatang maka, setiap 6 bulan akan kita lakukan evaluasi. Jika hasil evaluasinya bisa berjalan baik, dan ada kelurahan yang sudah siap jadi pilot project, maka akan kita perluas atau kita tambahkan lagi.
“Maka dengan seiring waktu berjalan, semua kelurahan akan menggunakan pola atau sistem yang sama seperti 5 kelurahan pertama yang dijadikan pilot project,”ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bappelitabngda Kota Ternate, Thamrin Marsaoly menyampaikan, bahwa pengelolaan sampah berbasis partisipatif ini juga bagian dari pengelolaan pembangunan. Karena, sampah ini menjadi isu yang sangat strategis.
“Sampah ini tidak bisa diurus secara biasa-biasa saja, tetapi harus dirubah agar masyarakat dan stakeholder lainnya juga bisa terlibat,”terangnya saat diwawancarai Terbitmalut.com Kamis, (9/4/2026).
Untuk itu, kita berharap peran penting kelurahan dan kecamatan agar bisa membantu DLH untuk mengelola sampah yang lebih baik lagi.
“Karena DLH tidak bisa bekerja sendiri, harus dibantu oleh pemerintah Kecamatan dan kelurahan, terutama ketua-ketua RT/RW,”tandasnya.
Plt Kadis DLH, Musli Muhamad juga menambahkan, bahwa selama ini kita hanya berfokus pada pungut sampah, angkut dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Karena, selama ini dalam proses pemilahan sampah belum berjalan maksimal.
“Padahal sampah ini tidak hanya pungut, angkut dan dibuang. Namun, sampah ini jika dikelola dengan baik, akan memiliki nilai ekonomisnya. Maka dengan adanya terobosan yang akan kita buat yakni menjadikan 5 kelurahan di masing-masing Kecamatan sebagai pilot project, maka tidak semua sampah dibawa ke TPA,”tuturnya.
“Sehingga TPA kita terlalu menerima daya tampung volume sampah yang banyak. Dengan demikian TPA juga bisa menampung sampah dengan jangka waktu yang lama,”pungkasnya. (**)
Editor : Uku





