WEDA, TERBITMALUT.COM — Di tengah perubahan cara masyarakat bertransaksi, memasarkan produk, dan mengakses layanan, transformasi digital menjadi tantangan tersendiri bagi daerah. Persoalannya bukan sekadar menghadirkan teknologi, melainkan bagaimana teknologi dapat membuka peluang ekonomi, memperluas pasar, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Gagasan itulah yang menjadi salah satu perhatian bagi Muhammad Kharies, S.IP., aparatur pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara, yang mencoba bergerak di antara dua ruang: pelayanan publik dan kewirausahaan digital.
Sebagai Analis Kelembagaan Masyarakat pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Halteng, Kharies berkutat dengan urusan kelembagaan organisasi kemasyarakatan, pengelolaan data, dan pembinaan masyarakat. Namun, di luar tanggung jawab birokrasi, ia justru mengembangkan WedaGo, sebuah platform yang dirancang untuk membangun konektivitas ekonomi lokal melalui layanan digital.
Dua bidang tersebut memiliki karakter berbeda. Birokrasi bekerja dalam kerangka administrasi dan pelayanan publik, sementara kewirausahaan menuntut kreativitas, kemampuan membaca kebutuhan pasar, serta keberanian menguji gagasan. Kharies berupaya mempertemukan keduanya melalui pemanfaatan teknologi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Dari pelayanan publik menuju inovasi digital
Dalam pekerjaannya di lingkungan Kesbangpol Halteng, Kharies terlibat dalam pengembangan SIGARO atau Sistem Informasi Ormas. Inovasi ini dirancang untuk mendukung pengelolaan data organisasi kemasyarakatan, pembinaan kelembagaan, serta peningkatan kualitas pelayanan administrasi organisasi masyarakat.
Pengembangan sistem informasi tersebut memperlihatkan salah satu ruang pemanfaatan teknologi dalam pemerintahan daerah: membuat pengelolaan data lebih terstruktur dan mendukung proses administrasi yang lebih efektif.
Bagi dia, digitalisasi pemerintahan tidak berhenti pada penggunaan perangkat atau aplikasi. Teknologi perlu ditempatkan sebagai instrumen untuk memperbaiki proses kerja, memudahkan pengelolaan informasi, dan memperkuat kualitas pelayanan.
Pengalaman di lingkungan pemerintahan itu berjalan beriringan dengan ketertarikannya pada pengembangan ekosistem digital di sektor ekonomi. Jika SIGARO berorientasi pada pengelolaan kelembagaan masyarakat, WedaGo diarahkan untuk mempertemukan pelaku usaha, konsumen, serta penyedia jasa dalam satu jaringan layanan.
Keduanya berada pada ranah berbeda, tetapi memiliki titik temu dalam pemanfaatan data dan teknologi untuk menjawab kebutuhan lokal.
WedaGo dan tantangan membangun ekonomi digital lokal
Sebagai pendiri WedaGo, Kharies membawa gagasan bahwa ekonomi digital daerah seharusnya tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha dan tenaga kerja lokal.
WedaGo dikembangkan sebagai platform yang menghubungkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masyarakat, pengemudi ojek, serta kurir dalam satu layanan terintegrasi.
Gagasan ini berangkat dari kebutuhan membangun konektivitas antara penjual dan pembeli, sekaligus mempertemukan permintaan masyarakat dengan layanan yang tersedia di lingkungan mereka sendiri.
Dalam konteks Halmahera Tengah, pengembangan model semacam ini memiliki tantangan tersendiri. Keberadaan aplikasi saja tidak otomatis membuat masyarakat beralih ke layanan digital. Kepercayaan pengguna, kemudahan akses, konsistensi layanan, kesiapan pelaku usaha, dan kemampuan platform menjawab kebutuhan sehari-hari turut menentukan keberlanjutannya.
Karena itu, ukuran keberhasilan WedaGo tidak cukup hanya dilihat dari kehadiran platform. Dampaknya perlu tercermin dalam manfaat yang dirasakan pengguna, bertambahnya akses pasar bagi UMKM, terbukanya peluang kerja bagi pengemudi dan kurir, serta terbentuknya aktivitas ekonomi yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
Di sinilah gagasan Kharies berhadapan dengan tantangan sesungguhnya: mengubah ide digital menjadi layanan yang digunakan, dipercaya, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.
WEMA FEST, mempertemukan pasar fisik dan ekosistem digital
Upaya membangun konektivitas ekonomi lokal juga diwujudkan melalui WEMA FEST Vol. 1 yang digelar pada Oktober 2026. Festival pasar kreatif ini melibatkan 19 pelaku UMKM dan memadukan kuliner, hiburan, musik, serta aktivitas komunitas.
Melalui WedaGo, kegiatan tersebut diinisiasi sebagai ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk, menjangkau konsumen, dan membangun interaksi langsung dengan masyarakat.
WEMA FEST menjadi bagian dari pendekatan yang menghubungkan aktivitas ekonomi secara langsung dengan pengembangan ekosistem digital. Pasar tidak hanya dipahami sebagai tempat jual beli, tetapi juga ruang pertemuan antara pelaku usaha, konsumen, komunitas, dan peluang kolaborasi.
Bagi UMKM, kegiatan semacam ini dapat membuka kesempatan memperkenalkan produk sekaligus menguji respons pasar. Sementara bagi pengembangan platform digital, interaksi langsung dapat menjadi sarana untuk memahami kebutuhan pengguna dan karakter usaha lokal.
Meski demikian, keberlanjutan inisiatif seperti WEMA FEST tetap menjadi pekerjaan penting. Keramaian sebuah festival belum dengan sendirinya menjamin pertumbuhan usaha dalam jangka panjang. Dibutuhkan kesinambungan promosi, perluasan jaringan konsumen, penguatan kualitas produk, dan akses pasar setelah kegiatan berakhir.
Tantangan tersebut memperlihatkan bahwa membangun ekonomi digital tidak cukup melalui satu acara atau peluncuran layanan. Ekosistem harus dirawat melalui aktivitas yang berkelanjutan dan keterlibatan para pelaku di dalamnya.
Pendidikan dan cara pandang terhadap pembangunan daerah
Di luar aktivitas pemerintahan dan kewirausahaan, Kharies merupakan lulusan Sarjana Ilmu Politik dan sedang melanjutkan pendidikan magister di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun, Ternate.
Latar belakang akademik tersebut beririsan dengan minatnya terhadap tata kelola pemerintahan, harmoni sosial, kepemimpinan, inovasi, serta pengembangan ekonomi daerah. Perpaduan antara pengalaman birokrasi dan pendidikan ekonomi menjadi ruang bagi Kharies untuk memandang pembangunan dari dua sisi: bagaimana kelembagaan bekerja dan bagaimana peluang ekonomi dapat dikembangkan.
Namun, gagasan pembangunan berbasis teknologi pada akhirnya harus diuji melalui pelaksanaan di lapangan. Inovasi membutuhkan kemampuan mengelola sumber daya, membangun kemitraan, memahami kebutuhan masyarakat, serta memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Bagi daerah yang terus menghadapi perubahan sosial dan ekonomi, pendekatan semacam ini membuka ruang untuk menghubungkan kapasitas kelembagaan dengan kreativitas masyarakat. Teknologi dapat menjadi salah satu instrumennya, tetapi keberhasilan tetap bergantung pada manusia, tata kelola, dan konsistensi pelaksanaannya.
Teknologi harus menghadirkan manfaat
Kharies menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan yang ingin didorongnya. Orientasi tersebut tercermin dalam fokus pengembangannya, mulai dari inovasi pemerintahan, penguatan kelembagaan masyarakat, pengembangan usaha lokal, hingga pemberdayaan UMKM melalui ekonomi digital.
Baginya, teknologi tidak semestinya berhenti sebagai simbol modernisasi. Teknologi perlu menghubungkan manusia, membuka peluang, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan itu menjadi landasan bagi pengembangan WedaGo maupun keterlibatannya dalam inovasi pelayanan pemerintahan. Namun, gagasan tersebut juga membawa tuntutan: memastikan teknologi tidak hanya menjangkau kelompok yang sudah siap secara digital, tetapi turut memberi ruang bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses.
Pada titik ini, transformasi digital menjadi lebih dari sekadar persoalan teknis. Ia menyangkut akses, kesempatan, kepercayaan, dan kemampuan membangun kerja sama di tingkat lokal.
Perjalanan Kharies di antara birokrasi dan kewirausahaan digital masih berhadapan dengan tantangan untuk membuktikan keberlanjutan gagasannya. SIGARO dan WedaGo bergerak di bidang yang berbeda, sementara WEMA FEST menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan aktivitas ekonomi masyarakat dengan inisiatif digital.Ketiganya menggambarkan arah perhatian Kharies terhadap pemanfaatan teknologi untuk kebutuhan lokal.
Dari pelayanan publik hingga pengembangan usaha, tujuan yang ingin dibangun adalah ekosistem Halmahera Tengah yang lebih produktif, mandiri, dan adaptif terhadap perubahan. Sebab, masa depan ekonomi digital daerah tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mampu membuat aplikasi. Lebih dari itu, masa depan tersebut ditentukan oleh kemampuan membangun layanan yang dipercaya, memperkuat usaha masyarakat, menciptakan peluang kerja, dan menjaga agar manfaat inovasi tetap tumbuh di daerahnya sendiri. (Dewa)
Editor : TM



