ads
ads
ads

“Merawat Ingatan, Menghidupkan Sejarah: Sebuah Resensi atas Kepulauan Rempah-rempah Karya M. Adnan Amal”

Oleh ; Arafik A Rahman (Penulis Maluku Utara)

ADA, sebuah pepatah yang mengatakan, “bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang pandai membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga ingatan sejarahnya.” Sayangnya, kita sering lebih akrab dengan peristiwa yang terjadi di negeri lain daripada memahami tanah yang kita pijak sendiri.

Kita mengenal Eropa melalui buku pelajaran, tetapi lupa bahwa Maluku Utara pernah menjadi pusat perhatian dunia. Di tengah kondisi itulah, kehadiran buku Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250–1950 karya M. Adnan Amal, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2010 dan kemudian hadir kembali dalam edisi revisi oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2016, menjadi sangat penting.

Buku ini bukan sekadar kumpulan fakta sejarah, melainkan sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali memori kolektif tentang negeri yang dahulu menjadi tujuan pelayaran bangsa-bangsa besar karena aroma cengkehnya. Membaca buku ini seperti menaiki sebuah kapal kayu yang berlayar menembus abad demi abad. Pembaca diajak menyaksikan lahirnya kesultanan-kesultanan di Maluku Utara, menyimak diplomasi para sultan, melihat datangnya Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris, hingga memahami bagaimana perebutan rempah-rempah membentuk arah sejarah dunia.

Kekuatan terbesar buku ini terletak pada kedalaman risetnya. Penulis tidak hanya mengandalkan cerita lisan, tetapi juga merujuk pada berbagai sumber sejarah, arsip dan literatur yang membuat narasinya memiliki pijakan akademik yang kuat. Ia berhasil menjembatani dunia ilmiah dengan bahasa yang tetap dapat dinikmati oleh pembaca umum.

Sebagai pembaca, saya merasakan bahwa buku ini tidak sedang memuja masa lalu. Sebaliknya, ia mengajak kita berdialog dengan sejarah. Sejarah tidak diposisikan sebagai nostalgia, melainkan sebagai pelajaran agar generasi sekarang memahami mengapa Maluku Utara pernah menjadi pusat perdagangan dunia dan mengapa warisan itu masih penting untuk dijaga.

Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika penulis menggambarkan bagaimana rempah-rempah mampu mengubah peta politik dunia. Sebutir cengkeh yang tumbuh di lereng gunung Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo yang ternyata sanggup menggerakkan armada dari Eropa. Hal ini mengingatkan kita bahwa kekayaan alam bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang peradaban.

Buku ini juga menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Sultan Khairun, Sultan Babullah dan Sultan Nuku bukan sebagai legenda, melainkan sebagai manusia yang memiliki visi, keberanian, dan kecerdasan politik. Mereka menjadi bukti bahwa kepemimpinan Nusantara telah memiliki tradisi yang kuat jauh sebelum negara modern berdiri.

Di balik seluruh kisah itu, ada satu tokoh yang sering terlupakan, yaitu penulisnya sendiri. Menulis sejarah bukan pekerjaan mudah. Ia membutuhkan kesabaran, ketelitian, keberanian menguji sumber dan kerendahan hati untuk membiarkan fakta berbicara. M. Adnan Amal telah menjalankan peran itu dengan tekun.

Dalam pandangan saya, seorang penulis sejarah bukan hanya pencatat masa lalu. Ia adalah penjaga ingatan. Ketika banyak arsip mulai rusak, ketika para saksi sejarah satu per satu berpulang, tulisan menjadi jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan mereka yang hidup ratusan tahun lalu. Itulah sebabnya buku ini layak dibaca, terutama oleh generasi muda Maluku Utara.

Jangan sampai kita tinggal di tanah yang dahulu diperebutkan dunia, tetapi tidak mengenal alasan mengapa dunia pernah datang ke sini. Tentu, tidak ada buku yang sempurna. Di beberapa bagian, pembahasan terasa cukup padat karena banyak memuat nama tokoh, tahun dan peristiwa. Pembaca yang baru mulai mengenal sejarah mungkin perlu membacanya secara perlahan. Tetapi justru kepadatan itulah yang menunjukkan keseriusan penulis dalam menjaga akurasi.

Resensi ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak akan hidup hanya karena tersimpan di rak perpustakaan. Sejarah akan hidup ketika dibaca, didiskusikan, ditulis kembali, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di era media sosial, ketika informasi datang begitu cepat dan mudah terlupakan, karya seperti ini memiliki nilai yang semakin besar. Ia mengajarkan bahwa memahami masa lalu adalah cara terbaik untuk membangun masa depan.

Sebagai masyarakat Maluku Utara, kita memiliki tanggung jawab moral untuk merawat warisan sejarah tersebut. Cara paling sederhana adalah membaca. Cara berikutnya adalah menulis. Sebab setiap tulisan yang lahir dari kecintaan terhadap sejarah akan memperpanjang umur ingatan sebuah bangsa.

Karena itu, Kepulauan Rempah-rempah bukan sekadar buku sejarah. Ia adalah undangan untuk mengenal identitas, menghargai perjuangan para pendahulu dan menyadari bahwa harum rempah-rempah yang dahulu mengundang bangsa-bangsa datang ke Nusantara juga meninggalkan warisan peradaban yang patut kita banggakan.

Terima kasih kepada almarhum M. Adnan Amal yang telah menghadirkan karya berharga ini. Melalui buku ini, beliau tidak hanya menyusun lembar demi lembar sejarah, tetapi juga menitipkan sebuah amanah kepada generasi penerus agar tidak membiarkan ingatan tentang Maluku Utara memudar ditelan zaman.

Kini, estafet itu berada di tangan kita. Generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk terus membaca, meneliti, menulis dan memperkenalkan kembali sejarah Maluku Utara kepada dunia. Jangan biarkan kisah tentang negeri rempah hanya ditulis oleh orang lain, sementara anak-anak negeri sendiri melupakannya. Sejarah akan tetap hidup apabila ada yang membacanya, mengkajinya dan menuliskannya kembali dengan hati yang jujur.

Semoga buku ini menjadi inspirasi lahirnya lebih banyak penulis, sejarawan dan pegiat literasi dari Maluku Utara. Sebab, selama masih ada orang yang mencintai buku dan menghormati sejarah, selama itu pula jati diri sebuah bangsa akan tetap terjaga.

Dan selama pena masih menari di atas kertas, leptop masih terbuka dan jemari masih mengetik harum rempah-rempah Maluku Utara akan terus dikenang, bukan hanya sebagai komoditas perdagangan, melainkan sebagai warisan peradaban yang menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan.

#MembacaItuKeren

Bagikan: