ads
ads

TERNATE, TERBITMALUT.COM — Nuryani Amra, baru saja menjabat Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Ternate, berkomitmen besar memberikan kontribusi yang lebih untuk Dinas Kesehatan Kota Ternate.

Memang hal ini menjadi pengalaman barunya, karena Nuryani Amra bukan lulusan Kesehatan, melainkan Alumni STPDN Tahun 2005. Tentunya, baru pertama kali alumni STPDN ditempatkan di Dinas Kesehatan Kota Ternate.

Di kesempatan itu, Nuryani pun disambut tepuk tangan meriah para peserta Evaluasi Program Gizi-KIA dan Koordinasi Lintas Program Percepatan Penurunan Stunting di Kota Ternate, yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Ternate pada Kamis (22/2/2024) di Royal Resto Ternate.

Menjadi orang nomor 2 di Dinas Kesehatan Kota Ternate, mantan Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Ternate menyatakan komitmennya untuk siap belajar.

“Saya bersyukur atas kesempatan yang baru ini. Karena berbeda dengan DPMPTSP, Dinas Kesehatan ini ruang lingkupnya lebih besar, Selain Dinas ada 11 Puskesmas dan 3 UPTD, itu artinya saya harus mengupgrade diri saya, insya Allah saya berkomitmen untuk siap belajar,”tutur mantan Lurah Jati itu.

Kemudian, Jika dilihat dari disiplin ilmu, secara teknis memang Nuryani tidak memiliki bekal ilmu Kesehatan namun sebagai alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan, dirinya optimis bisa memberikan warna baru di Dinas yang melaksanakan urusan wajib bidang Kesehatan ini.

“Ya core-nya kan masih pelayanan juga, jadi jurus pamongnya masih tetap dipakai, bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik, menjadi abdi negara dan abdi Masyarakat,”tukas  Sekcam Ternate Tengah itu.

Kehadiran Nuryani, dalam acara Evaluasi Program Gizi-KIA dan Koordinasi Lintas Program Percepatan Penurunan Stunting adalah untuk mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, memberikan sambutan sekaligus membuka dengan resmi penyelenggaraan acara tersebut.

Dalam sambutannya, Nuryani menyampaikan, bahwa upaya percepatan penurunan stunting harus dilakukan bersama-sama.

“Tidak bisa sendiri-sendiri, tidak akan selesai kalau polanya eksklusif, harus inklusif. Pendekatannya, bukan sebatas program tapi harus menjadi gerakan masyarakat. Kekuatan masyarakatlah yang menjadi senjata paling ampuh. Pemerintah hanya memfasilitasi,”ungkapnya.

Lebih lanjut, Yani menambahkan bahwa bagaimana kekuatan kolaborasi bisa dibangun?. Maka titik awalnya adalah dengan kolaborasi lintas program lingkup Dinas Kesehatan.

“Oleh karena itu, hari ini kami mengajak semua stakeholder, yang diawali dengan kolaborasi lingkup internal Dinkes. Ini catatan penting pada pertemuan kita hari ini. Bagaimana Mau ajak lintas sektor berkolaborasi untuk penurunan stunting, kita internal Lingkup Dinkes perkuat dulu kolaborasinya,”pungkas Nuryani dihadapan Para Kepala Puskesmas, Kepala Bidang, dan Koordinator Gizi. (**)

Editor : Sukur

Bagikan: