“Kebenaran yang Terhalang Asumsi”
Oleh ; Arafik A Rahman (Penulis Buku)
KAWAN, mari kita mulai dari yang sederhana: duduk sebentar dan seduh kopinya. Jangan terlalu serius mendengar bisikan orang, terutama yang masih bersifat asumsi. Kadang, yang kita dengar bukanlah kebenaran, melainkan suara yang berulang-ulang diucapkan hingga terdengar meyakinkan. Padahal, tidak semua yang sering dibicarakan itu benar dan tidak semua yang jarang terdengar itu salah.
Di tengah riuhnya percakapan hari ini, kita sering merasa telah sampai pada kebenaran, padahal baru berdiri di atas asumsi. Kita mendengar sepotong cerita, melihat sebagian peristiwa, lalu dengan cepat menyimpulkan seolah-olah itulah keseluruhan kenyataan. Di sinilah masalah itu bermula. Asumsi tumbuh dengan sangat mudah. Ia tidak membutuhkan proses panjang, tidak menuntut kedalaman berpikir dan tidak memerlukan keberanian untuk berkata jujur.
Cukup dengan sedikit informasi, sedikit keyakinan, sedikit keberanian untuk berbisik dan berbicara, lalu lahirlah sebuah “kebenaran versi kita”. Ada satu frasa dalam bahasa Inggris yang menarik: “jumping to conclusions: melompat pada kesimpulan tanpa dasar yang cukup.” Frasa ini sederhana, tapi terasa sangat dekat dengan kebiasaan kita hari ini. Kita terlalu cepat menyimpulkan, seolah waktu untuk memahami adalah sesuatu yang biasa dilewati begitu saja.
Padahal, dalam dunia ilmu pengetahuan, ada yang disebut sebagai confirmation bias, sebuah konsep yang dipopulerkan oleh Daniel Kahneman dalam bukunya “Thinking, Fast and Slow”. Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari dan mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinannya, sambil mengabaikan fakta yang bertentangan.! Artinya, asumsi tidak hanya lahir dari ketidaktahuan, tetapi juga dari kecenderungan kita untuk merasa sudah tahu.
Sementara itu, kebenaran berjalan lebih pelan. Ia tidak tergesa-gesa. Ia menunggu untuk dipahami, diuji dan ditempatkan dalam konteks yang utuh. Kebenaran tidak hanya berdiri di atas apa yang tampak, tetapi juga pada apa yang tersembunyi di baliknya. Namun sayangnya, dalam banyak keadaan, kebenaran justru terhalang oleh asumsi yang kita pelihara sendiri. Di ruang-ruang yang lebih savety, di balik meja rapat, di lorong-lorong kekuasaan, bahkan di antara orang-orang yang merasa paling dekat dengan poros kekuasaan: bisikan sering kali bekerja lebih cepat daripada kebenaran.
Ada yang berbisik tentang seseorang: bahwa ia tidak loyal, bahwa ia tidak layak, ia parah dan bahwa ia punya agenda tersembunyi. Ada pula seseorang berbisik kepada teman-teman untuk menjatuhkan teman lain. Membesar-besarkan isu yang belum tentu benar yang akhirnya melahirkan konflik yang tak perlu, entah itu relasi sosial, etnisitas dan sara. Bisikan itu pelan, tapi terarah. Halus, tapi berdampak. Kadang, satu bisikan cukup untuk menggeser persepsi. Dua bisikan bisa mengubah sikap.
Dan jika terus diulang, ia mampu mereposisi struktur, mengangkat yang belum tentu siap, dan menjatuhkan yang belum tentu bersalah. Lebih rumit lagi, bisikan itu tidak selalu datang dari lawan.
Tetapi sering kali ia lahir dari lingkaran yang sama, nyaris dari teman kepada teman, dari dekat kepada yang paling dekat. Ada yang menyampaikan cerita, ada yang menambahkan warna, ada yang menguatkan tanpa memeriksa. Lalu, tanpa disadari, asumsi berubah menjadi dasar keputusan. Padahal, belum tentu itu kebenaran. Di titik ini, kita bisa belajar dari teori klasik dalam sosiologi, yaitu teorema Thomas yang diperkenalkan oleh William Isaac Thomas dalam bukunya “The Child in America”. Teorema ini menyatakan: “If men define situations as real, they are real in their consequences” jika manusia mendefinisikan sesuatu sebagai nyata, maka ia akan nyata dalam akibatnya.
Di sinilah letak bahayanya asumsi. Sesuatu yang belum tentu benar, bisa terasa nyata dampaknya, hanya karena banyak orang mempercayainya atau karena ia dipercaya oleh orang yang memiliki kekuasaan. Kita sering kali lebih nyaman dengan apa yang kita kira benar, daripada bersusah payah mencari apa yang benar adanya. Asumsi memberi kita kepastian instan, sementara kebenaran menuntut kesabaran. Asumsi membuat kita merasa cukup tahu, sementara kebenaran justru mengajak kita untuk terus belajar.
Dalam kehidupan sosial, kondisi ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi menjadi persoalan bersama. Ketika asumsi dibiarkan tumbuh tanpa kontrol, ia bisa berubah menjadi prasangka. Prasangka yang awalnya kecil, perlahan mengeras, membentuk jarak, bahkan menciptakan luka yang tidak terlihat. Sebaliknya, ketika kebenaran diberi ruang, ia menghadirkan ketenangan. Ia mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi ia jujur. Dan dari kejujuran itulah, kepercayaan bisa tumbuh.
Pencerahan publik, pada akhirnya, tidak dimulai dari banyaknya orang yang berbicara, tetapi dari semakin banyaknya orang yang mau berpikir. Berpikir sebelum berpendapat, memahami sebelum menilai, dan menahan diri sebelum menyimpulkan. Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menghindari asumsi. Ia adalah bagian dari cara manusia merespons dunia dengan cepat. Namun yang bisa kita lakukan adalah tidak berhenti di sana. Kita bisa melangkah lebih jauh: mengujinya, mempertanyakannya dan bila perlu, merelakannya.
Sebab kebenaran tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertunda, tertutup atau terhalang, sering kali oleh cara kita sendiri dalam melihat sesuatu. Di tengah dunia yang semakin cepat, kemampuan untuk melambat sejenak dan berpikir jernih justru menjadi hal yang langka. Padahal, di situlah letak kebijaksanaan: bukan pada siapa yang paling cepat berbicara, tetapi pada siapa yang paling mampu memahami.
Jadi kawan, lain kali saat kita duduk dengan secangkir kopi dan mendengar sesuatu yang terasa “meyakinkan”, pastikan kita tidak perlu langsung percaya. Cukup dengarkan, diam sejenak, lalu bertanya dalam hati: orang ini pembohong atau? Ini kebenaran atau hanya asumsi yang terdengar rapi?. (**)





