ads

Ketika Kebusukan Disucikan “Religiusasi Politik”

Oleh: Bung Opickh

 

DALAM, politik lokal yang dikungkung jejaring Soa-Soa, kita menyaksikan sebuah fenomena lama yang terus berulang tetapi jarang dibahas secara serius: kebusukan yang disucikan. Fenomena ini bukan sekadar strategi politik, melainkan sebuah praktik kultural yang dibangun perlahan melalui bahasa, simbol dan kepentingan. Dalam banyak ruang, tindakan yang jelas-jelas kocak, manipulatif atau transaksional justru mendapatkan pembenaran moral.

Di sinilah saya menyebutnya dengan “Teori REBUS: Religiusasi Kebusukan Politik” menemukan relevansinya: bagaimana sesuatu yang buruk berubah menjadi tampak sah dan bahkan mulia. Religiusasi kebusukan politik bukan berarti menggunakan agama secara langsung, tetapi merujuk pada proses “penyucian simbolik”. Kebusukan diberi jubah kesalehan: dianggap pengabdian, dinarasikan sebagai perintah moral atau dikemas sebagai bagian dari tradisi leluhur.

Soa-Soa menjadikan semua itu mekanisme untuk memperindah wajah gelap kekuasaan. Orang-orang tidak lagi melihat substansi, hanya melihat bungkusnya. Dalam praktiknya, pensucian ini berjalan melalui ritual kecil: sambutan meriah, penyebutan kata “demi masyarakat”, “demi keadilan” atau “demi kesejahteraan”, padahal tujuannya hanyalah mempertahankan dominasi jaringan. Politik Soa-Soa menggunakan bahasa yang tampak suci untuk menyamarkan perebutan keuntungan.

Dan masyarakat perlahan-lahan belajar menerima itu sebagai hal wajar, bahkan patut dihormati. Fenomena ini bukan terjadi dalam ruang hampa. Ia lahir dari lingkungan sosial yang terbiasa dengan hirarki keluarga, patronase dan kedekatan emosional. Kebusukan yang dilakukan oleh orang dekat dianggap sebagai “strategi”, tetapi bila dilakukan orang lain disebut “pengkhianatan”. Moral menjadi relatif, tergantung siapa pelakunya. Inilah pangkal paling mendasar dari kebusukan yang disucikan.

Soa-Soa memanfaatkan ruang-ruang psikologis masyarakat: rasa takut, rasa sungkan dan rasa hutang budi. Dalam kondisi seperti itu, perilaku buruk elit politik menjadi tidak terlihat karena tertutup lapisan kesopanan sosial. Bahkan ketika publik tahu sesuatu berbau busuk, mereka memilih diam agar tidak dianggap melawan tradisi atau tidak menghormati tetua. Perlu diakui: kebusukan yang disucikan adalah keahlian retorik.

Seorang pemimpin yang hendak mempertahankan dominasi jaringan akan lebih dahulu menciptakan narasi bahwa dirinya adalah “penjaga stabilitas”. Dengan narasi itu, siapa pun yang menantangnya dianggap “pemecah belah” atau “mengganggu keseimbangan”. Padahal stabilitas itu hanya ilusi untuk melindungi kepentingan kelompok. Dalam konteks politik Soa-Soa, retorika itu diperkuat oleh struktur kekeluargaan. Seorang pemimpin bisa tampil sebagai figur moral padahal di belakangnya jaringan Soa-Soa sedang merampas peluang orang lain.

Struktur kekuasaan ini selalu bekerja diam-diam, tetapi dampaknya terasa nyata: kompetisi mati, meritokrasi punah dan kualitas pemerintahan menurun. Teori Religiusitas Kebusukan Politik (Rebus) menyebut bahwa proses penyucian kebusukan biasanya memerlukan tiga tahap: pembungkusan retorik, pembenaran tradisi dan legitimasi massa. Setelah ketiga tahap ini selesai, kebusukan menjadi sulit dikritik karena telah dikukuhkan menjadi norma sosial baru.

Dalam tahap pembungkusan retorik, kata-kata adalah senjata paling mematikan. Ia membungkus ambisi dengan wangi-wangian moral. Para Soa-Soa pandai menyamarkan dominasi menjadi persatuan, menyamarkan kepentingan kelompok menjadi “kepentingan bersama”. Tahap kedua adalah pembenaran tradisi. Di sinilah manipulasi bekerja lebih halus. Tradisi dijadikan alasan untuk menutup pintu kritik, seolah-olah setiap tindakan elit merupakan bagian dari ritual yang luhur. Tradisi kehilangan makna, berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Tahap ketiga adalah legitimasi massa. Kebusukan menjadi suci karena banyak orang menerimanya sebagai sesuatu yang normal. Para pendukung menyebarkan narasi bahwa pemimpin mereka adalah korban fitnah atau pejuang kebenaran. Dan massa, seperti biasa, lebih suka cerita yang membuat mereka bangga ketimbang wajah asli dari kenyataan. Ketika tiga tahap ini bersinergi, kebusukan menjadi berumur panjang. Ia menjelma seperti patung yang dipuja, diberi bunga, diusap-usap, sementara retakan pada tubuhnya tak pernah diperbaiki. Politik Soa-Soa hidup dari patung-patung seperti itu.

Masyarakat biasa sebenarnya tahu ada yang salah. Mereka mencium bau busuk itu, tapi dikalahkan oleh rasa tidak berdaya. Dalam pembicaraan kecil, kebusukan jelas disebut dan dikritik. Namun ketika berada di ruang publik, mereka menutup mulut. Ada ketakutan untuk keluar dari konsensus palsu yang telah dibangun. Kebusukan yang disucikan juga lahir dari harapan kecil masyarakat terhadap “kedekatan” dengan kekuasaan. Orang berpikir: mungkin suatu saat keluarganya dapat bantuan, jabatan atau proyek. Dengan begitu, mereka tidak ingin menjadi bagian dari pihak yang menentang Soa-Soa. Di sinilah manipulasi bekerja: pemimpin memanfaatkan harapan kecil rakyat untuk mengukuhkan kekuasaan besar.

Dalam jangka panjang, fenomena ini bukan hanya merusak demokrasi tetapi juga merusak imajinasi kolektif tentang apa itu kebaikan. Bukan hanya institusi yang hancur, tetapi juga ukuran moral masyarakat. Kebusukan yang disucikan menciptakan generasi yang tidak bisa membedakan etika dan kepentingan. Akibatnya, politik tidak lagi dipandang sebagai seni memajukan kehidupan bersama, tetapi sebagai medan siasat dan keuntungan. Sebuah ruang dimana licik lebih dihormati daripada jujur, dan manipulatif dianggap lebih cerdas daripada amanah. Soa-Soa mengubah etika menjadi komoditas yang bisa dibolak-balik sesuai kebutuhan.

Yang paling berbahaya adalah ketika generasi muda mulai meniru pola yang sama. Mereka belajar bahwa yang berhasil naik jabatan bukan orang yang bekerja keras, melainkan orang yang dekat dengan jejaring Soa-Soa. Kebusukan yang disucikan menular seperti penyakit, diwariskan tanpa disadari. Dalam konteks akademik, fenomena ini bisa dipahami sebagai bentuk inversi moral, yaitu kondisi ketika nilai-nilai terbalik tetapi tetap dianggap benar. Inversi moral melahirkan kebingungan publik dan menutup pintu refleksi. Politik Soa-Soa bertahan karena publik tak lagi yakin batas antara benar dan salah.

Namun dalam konteks sastra, ini tampak seperti drama tragikomedi. Kita melihat tokoh-tokoh dengan wajah suci, senyum ramah, tetapi langkahnya menggiring masyarakat masuk ke ruang gelap. Ada komedi dalam cara mereka berpura-pura, tetapi ada tragedi pada nasib rakyat yang terperangkap di dalamnya. Religiusasi kebusukan juga menyentuh praktik politik sehari-hari: rekrutmen pejabat, penyaluran bantuan, pembagian jabatan, hingga arah kebijakan. Kebusukan disucikan melalui prosedur, sehingga tampak sah. Padahal prosedur itu sendiri sudah dimanipulasi dari awal.

Dalam banyak kasus, kebusukan yang disucikan menghasilkan pemimpin yang seolah tak tersentuh. Mereka tampak “kebal kritik” karena sudah dipagari simbol-simbol kesucian. Kritik dianggap dosa sosial, bahkan serangan pribadi. Padahal kritik adalah pintu perbaikan. Pada titik ini, masyarakat kehilangan kemampuan untuk marah. Mereka tidak lagi merasa bahwa kebusukan adalah ancaman. Ketika kebusukan disucikan, rasa jijik sosial hilang. Yang tersisa hanya kepasrahan yang panjang dan diam yang menua.

Tetapi sejarah mengajarkan: kebusukan yang disucikan tidak pernah abadi. Ia runtuh ketika masyarakat mulai merasakan dampaknya pada kehidupan sehari-hari: ekonomi stagnan, pelayanan publik buruk, dan ketidakadilan menumpuk. Pada saat itu, simbol kesucian mulai retak, dan bau sebenarnya mulai tercium dengan kuat. Dalam situasi seperti itu, muncul kebutuhan baru: membongkar topeng kesucian dan mengembalikan moralitas pada tempatnya. Tugas ini tidak mudah, tetapi menjadi panggilan generasi muda yang ingin membangun daerahnya dengan cara yang lebih bermartabat. Mereka membutuhkan bahasa baru, imajinasi baru, dan keberanian baru.

Akhirnya, “Ketika Kebusukan Disucikan” bukan hanya kritik, tetapi ajakan: agar masyarakat berani memisahkan mana yang suci dan mana yang busuk. Agar politik tidak lagi menjadi rumah bagi manipulasi, tetapi menjadi ruang tempat nilai-nilai luhur hidup dan bekerja. Dalam negeri yang kecil seperti Maluku Utara, membongkar kebusukan berarti mengembalikan masa depan ke jalurnya. Dan itu, pada akhirnya adalah tugas kita semua.

“Bangsa ini tidak kekurangan pemimpin, yang kurang adalah cahaya untuk melihat mana pemimpin dan mana Soa-Soa.” (**)

ads
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *