ads
ads
ads
ads

Manusia; “Mahluk yang Belajar”

Oleh

Arafik A Rahman (Penulis Buku)

BANYAK kisah yang terjadi dalam hidup kita, yang tak dapat diuraikan dengan lisan dan tulisan. Entah itu tentang kepedihan atau kebahagiaan. Cerita-cerita itu merupakan anugrah terindah yang hanya dimiliki oleh manusia. Tidak oleh kerbau, monyet, tikus, onta dan hewan lainnya.

Karena manusia adalah mahluk belajar, ia tumbuh kembang bersamaan dengan belajar dan diajar. Dalam proses pembelajaran itu, ada kata benar dan salah. Keduanya adalah resiko yang pasti di dapat dalam proses belajar. Jika memahami dan kemudian berhasil dilakukan maka itu yang disebut kebenaran belajar.

Jika memahami, kemudian gagal melakukan itulah yang disebut kesalahan. Kesalahan itu bisa datang dari beratnya tantangan atau ada kekeliruan dalam pembelajaran teori nya sebelum melakukan tindakan. Tetapi, dalam upaya membenarkan pribadi yang positif, kesalahan itu bukan sebuah masalah melainkan tantangan.

Karena menurut Emhaf, dalam bukunya ‘Seni berpikir’, bahwa “Sebagai manusia kita berhak untuk salah, sebab kesalahan adalah pintu masuk dari suatu kebenaran”. Dengan terus berusaha, mencoba, berpiki, berpikir dan berpikir. Maka pasti tak ada pilihan lain yang diberikan oleh proses itu sendiri selain berhasil.

Ratusan tahun silam, motivasi tentang belajar, berpikir dan berusaha telah disampaikan oleh beberapa nabi dan filsuf. Katanlah nabi Muhammad SAW pertama kali menerima perintah dari Allah SWT yaitu “Iqra” untuk bagaimana mengajak manusia dari kesalahan menuju kebenaran.

Juga tentang seorang filsuf Prancis Rene Descartes yang menyampaikan “aku berpikir maka aku ada”. Menurutnya, berpikir adalah energi terkuat yang hanya dimiliki manusia. Untuk menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain, bagi alam dan bagi peradaban manusia kini dan nanti.

Setelah saya menganalisis apa sih yang paling substansial yang di sampaikan Descartes itu? Konklusinya, “ada” yang dimaksud itu adalah nama seorang pemikir dan buah pikirannya akan selalu di ada dan dikenang sepanjang masa ‘immortality’, walau nyawa dan jasadnya telah tiada. Seperti kata Supardi dalam puisinya “yang fana adalah waktu, kita abadi”.

Karena itu, sebagai mahluk yang belajar, tentu kita banyak meninggalkan catatan tentang jejak belajar kita dimasa kecil. Bermula dari tangisan ketika kita di lahirkan. Tangisan itu merupakan awal kita mendesah kan bunyi Morfem dalam linguistik. Perlahan demi perlahan kita mengucap nama Mama, Papa, Mam, tertawa dengan bebunyian yang begitu khas sebagai pemula dalam bahasa dan pendatang baru yang disebut manusia.

Seiring waktu berjalan kita di ajak belajar main oleh ayah, diajar makan oleh ibu, di ajari merangkak, berdiri, berjalan dan pakai baju sendiri. Lalu di usia 5 tahun, kita di sekolah kan ke PAUD, kemudian usia 7 tahu masuk SD, SLTP, SLTA, Sarjana, magister, dan seterusnya. Kesemuanya itu adalah suatu proses baca, belajar dan berpikir.

Saya percaya bahwa sebaik-baiknya fakta adalah tentang cerita masa lalu kita.. tentu kita bisa saja menulis biografi kehidupan tetapi tak mungkin tuntas tentang kesemua kisah itu. Karena terlalu banyak cerita yang kita lalui sejak kecil, membuat memori kita tak mungkin bisa menampung semua itu. Tetapi ada sebagian peristiwa masa lalu, yang dianggap memorable selalu segar dalam ingatan kita.

Misalnya kisah di masa remaja-sekolah, kisah tentang cinta dan kisa tentang menjadi mahasiswa. Dari kisah-kisah itu, kita hanya bisa menarik kesimpulan bahwa semua itu adalah cerita tentang sebuah proses belajar. Sebagai saldo hari ini dan di masa depan nantinya. Sebab pengalaman adalah guru besar dalam hidup kita, begitu kata filsuf.

Karena itu, teruslah belajar, belajar dan belajar. Ada paradoks yang mengatakan, semakin giat kita belajar, maka semakin merasa sangat sedikit pengetahuan dan ilmu yang kita dimiliki. Juga semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang datang di benak anda. Memang yang namanya paradoks frasanya sangat bertentangan dengan teori kausalitas dalam ilmu fisika dan ilmu hukum. Bahwa harusnya setiap frekuensi dari akibat suatu peristiwa, tentu tergantung pada frekuensi penyebabnya.

Menurut, Plato “everything that becomes or changes must do so owing to some cause; for nothing can come to be without a cause”. Apapun yang berubah atau terjadi pasti terjadi karena suatu penyebab, karena nggak ada yang bisa terjadi tanpa penyebab.

Tetapi pada soal-soal praktis tentang belajar, ada ungkapan frasa yaitu “semakin anda berilmu, maka semakin anda merasa kekurangan” itu adalah sebuah argumentasi yang sangat bertentangan namun ada kebenaran fakta dari itu. Karena ilmu yang dimiliki oleh manusia, itu hanya setetes air di tengah-tengah Samudra. Begitu kata Al-Ghazali.

Katakan pada diri kita, jangan sombong ketika kita mempunya gelar yang tinggi, tetapi jadilah bijak ketika semakin berilmu. Sebab puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan adalah kebijaksanaan. Sebaliknya sumur kebodohan yang paling dalam adalah kesombongan itu sendiri. (**)

Bagikan: