TERNATE, TERBITMALUT.COM — Tim Disaster Management Center Dompet Dhuafa Jakarta, berencana menjajaki potensi Kolaborasi dalam Pengelolaan Sampah, utamanya di Kota Ternate.

Tujuan dari program ini adalah, mendukung keberlanjutan pengelolaan sampah/lingkungan yang sudah maupun akan berjalan. Melakukan asesmen metode dan tahapan untuk keberlanjutan komunitas yang ada. Termasuk mengurangi jumlah sampah tidak terkelola di masyarakat dampingan program, dan mengimplementasikan target SDGs agar tercapai peningkatan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.

“Kemudian, mengumpulkan ide dan aspirasi pengelolaan sampah yang telah atau akan dijalankan untuk direplikasi ke wilayah lain. Mengembangkan kemitraan antara masyarakat, lembaga usaha, akademisi, media, dan pemerintah,”kata Ketua Tim Disaster Management Center Dompet Dhuafa Jakarta, Ahmad Baihaqi kepada Terbitmalut.com Selasa, (5/9/2023).

Selanjutnya, kata Ahmad, hasil yang diharapkan melalui program ini adalah pemetaan potensi dan tantangan mitra komunitas dalam hal pengelolaan sampah. Terkelolanya pengelolaan sampah terpadu wilayah, berkurangnya persentase sampah tidak terkelola, dan peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat di lokasi program.

“Sehingga kita berharap bisa bersinergi dengan Pemerintah Daerah Kota Ternate, terkait dengan pengelolaan masalah sampah di Kota Ternate,”harapnya.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sumber daya alam yang terdiri dari sea, sun, sand and mainland yang memungkinkan untuk dijadikan sumber devisa negara.

Maka daerah-daerah yang dianugerahi sumber daya alam yang eksotis tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam memberikan devisa bagi daerahnya guna menuju kemandirian daerah.

“Permasalahan yang terjadi banyak tempat wisata di Indonesia yang terancam rusak dikarenakan timbunan sampah. Masalah sampah dalam dunia pariwisata sudah lama menjadi hal yang sulit diselesaikan. Sampah sendiri juga menjadi masalah yang pelik dalam kehidupan sehari-hari karena bisa menjadi penyebab kerusakan ekosistem,”ungkapnya.

Hal tersebut dikarenakan lanjut Ahmad, minimnya awarenes pengunjung dan masyarakat untuk upaya menjaga lingkungan.

Kemudian, berdasarkan data di sistem informasi pengelolaan sampah nasional tahun 2022, telah terjadi timbunan sampah yang tidak terkelola sebanyak 8,3 juta ton/tahun dimana 18.4% adalah sampah plastik dan 6,1% nya bersumber dari fasilitas publik seperti tempat wisata.

“Oleh karena itu perlu adanya partisipasi publik dari berbagai komunitas dan multi pihak yang berkontribusi dalam pengurangan sampah yang mencemari wilayah-wilayah destinasi wisata di Indonesia, salah satunya dengan melakukan brand audit sampah produsen mana yang paling mencemari lingkungan”,pungkasnya. (**)

Penulis : Sukur

Bagikan: